infobekasi.co.id – Di depan Monumen Perjuangan Rakyat, Taman Hutan Kota Bekasi terpampang sebuah bait-bait puisi “Karawang-Bekasi” buah karya seorang penyair ulung yang pernah dimiliki bangsa Indonesia, yakni Chairil Anwar.
Lantas, siapakah sosok Chairil Anwar yang begitu melekat menjadi bagian catatan sejarah sehingga diabadikan puisinya di monumen perjuangan rakyat di Taman Kota Bekasi tersebut.
Dari berbagai sumber, Chairil Anwar lahir di Medan, pada 26 Juli 1922. Ia putra mantan Bupati Indragiri Riau, dan masih memiliki ikatan keluarga dengan Perdana Menteri pertama Indonesia, Sutan Sjahrir.
“Si Bintang Jalang” ini pernah sekolah di Hollandsch-Inlandsche School (HIS) yang kemudian dilanjutkan di MULO, tetapi tidak sampai tamat. Walaupun latar belakang pendidikannya terbatas, Chairil menguasai tiga bahasa, yaitu Bahasa Inggris, Belanda, dan Jerman.
Dia mulai mengenal dunia sastra di usia 19 tahun, namun namanya mulai dikenal ketika tulisannya dimuat di Majalah Nisan pada 1942. Setelah itu, ia menciptakan karya-karya lain yang sangat kesohor sampai saat ini, yakni puisi “Karawang-Bekasi”.
Warga Bekasi tahukah kalian, saat ini kondisi monumen perjuangan rakyat terlihat kurang diperhatikan. Dan mungkin pengunjung tidak terlalu peduli bahwa monumen itu berdiri menyimpan kisah masa lalu tentang Bekasi.
Warna cat putih mulai memudar pudar, ditambah lumut-lumut kolam, pertanda tidak diperhatikan. Padahal menjelang HUT Kemerdekaan RI ke 78.
Pengunjung Taman Kota Bekasi mungkin tidak begitu peduli siapa Chairil Anwar dan puisinya di Monumen Perjuangan Kota Bekasi.
Tapi ingat, Jangan lupakan sejarah, bahwa mereka pernah ada menjadi saksi perjalanan bangsa Indonesia sebelum merdeka.
Pemerintah Kota Bekasi semestinya ‘menggalakan’ objek bersejarah kepada generasi muda, mengingat pengorbanan para pejuang. Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai para pahlawannya.
Berikut goresan puisi Karawang-Bekasi, buah karya Chairil Anwar:
Kami yang kini terbaring antara Karawang-Bekasi. Tidak bisa teriak “Merdeka”, dan angkat senjata lagi.
Tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami, terbayang kami maju dan mendengar hati?
Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi. Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak.
Kami mati muda. Yang tinggal tulang diliputi debu. Kenang, kenanglah kami.
Reporter : Zahara Agisti Salsabila
Editor : Deros D.Rosyadi






























