Infobekasi.co.id – Di tengah pesatnya perkembangan kawasan industri dan perumahan yang menjamur, Kabupaten Bekasi masih gigih menjaga warisan budaya nenek moyang. Salah satunya adalah Seni Topeng Betawi, sebuah pertunjukan teater rakyat tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga identitas dan jati diri masyarakat Betawi.
Dari data yang dihimpun infobekasi, seni topeng Betawi diperkirakan sudah ada sejak abad ke-19 dan berkembang di wilayah pinggiran Batavia, termasuk di Bekasi dan Cikarang. Kesenian ini lahir dari akulturasi budaya beragam. Memadukan unsur Sunda, Jawa, Arab, dan Cina, yang hidup berdampingan.
Menurut catatan sejarah, seni ini merupakan perkembangan dari Topeng Babakan pada masa kolonial Belanda. Salah satu tokoh yang dianggap sebagai pelopornya adalah Mak Kinang binti Kinin dan Kong Djiun bin Dorak pada tahun 1918, yang terinspirasi dari gaya Topeng Cirebon.
Di Bekasi sendiri, seni ini berkembang menjadi bentuk yang unik dan sering disebut juga sebagai kerabat dekat kesenian Banjet yang populer di wilayah Sunda seperti Karawang. Masyarakat lokal sering menyebut topeng dengan istilah “kedok”.
Seni topeng ini sering ditampilkan dalam acara sakral maupun perayaan, seperti sedekah bumi, pernikahan, khitanan, hingga syukuran panen.
Secara filosofi, setiap topeng yang digunakan melambangkan karakter dan sifat manusia, mulai dari kebijaksanaan, keberanian, keceriaan, hingga kelicikan. Melalui gerakan dan ekspresi, para penari seolah menjadi pendongeng yang menyampaikan pesan moral, legenda, hingga kritik sosial kepada penonton.
Berbeda dengan tarian biasa, Topeng Betawi di Bekasi merupakan pertunjukan yang utuh atau total theater. Dalam satu pementasan, penonton bisa menikmati gabungan dari seni tari, musik, vokal, drama, hingga lawakan yang bersumber dari kehidupan sehari-hari masyarakat kecil.
Beberapa ciri khas topeng Betawi:
Topeng: Terbuat dari kayu dengan bentuk wajah yang khas, mata sering tertutup, hidung mancung, dan bibir merah. Uniknya, topeng ini tidak diikat tali, melainkan digigit oleh penari agar menempel di wajah.
Gerakan: Dinamis, tegas, dan penuh semangat. Ada gerakan melompat, menghentak kaki, hingga permainan selendang yang lincah.
Musik: Diiringi oleh alat musik tradisional seperti kendang, gong, saron, salendro, rebab, dan kecrek yang menciptakan irama khas.
Kabupaten Bekasi memiliki beberapa wilayah yang dikenal sebagai pusat pelestari seni ini. Salah satunya adalah kawasan Tambun, baik Tambun Selatan maupun Tambun Utara. Di Desa Jatimulya, Tambun Selatan, terdapat Sanggar Margasari Kacrit Putra yang cukup terkenal.
Selain itu, di Kampung Gabus, Tambun Utara yang dikenal sebagai kampung jawara, seni topeng juga terus dikembangkan bersama seni lainnya seperti pencak silat dan ujungan.
Ada juga Sanggar Sinar Seli Asih yang sejarahnya sudah ada sejak awal abad ke-20 dan terus diwariskan turun-temurun hingga kini. Para seniman di sini berusaha mempertahankan keaslian gerakan, meski tetap melakukan inovasi dalam garapan musik dan penyajiannya.
Seperti banyak seni tradisi lainnya, Topeng Betawi juga menghadapi tantangan zaman. Minat generasi muda dan ketersediaan dana menjadi pekerjaan rumah yang terus dihadapi. Namun, berkat semangat para seniman dan dukungan pemerintah daerah, seni ini tetap bertahan.
Beberapa sanggar ada juga yang sudah membuka pelatihan untuk anak-anak sekolah, mengintegrasikan seni ini ke dalam mata pelajaran muatan lokal. Dukungan dari Pemerintah Kabupaten Bekasi melalui dinas terkait juga terus diharapkan agar warisan budaya ini tidak punah ditelan zaman.
Editor : Dede Rosyadi






























