Rasa ‘Legendaris’ yang Melekat: Saat Martabak Pancong Wawan Jadi Penanda Waktu Warga

infobekasi.co.id – Matahari belum terlalu tinggi, namun keringat sudah mulai membasahi pelipis Wawan. Di usianya yang ke-58 tahun, langkah kakinya mungkin tak selincah dulu, namun semangatnya masih sama membara seperti api di dalam kompor tanah liat yang Ia gendong setiap hari.

Dengan gerobak pikul berwarna merah yang mulai pudar dimakan zaman, Wawan menyusuri gang-gang sempit di Kampung Mede, Bekasi Timur. Di sini, di antara hiruk-pikuk kehidupan perkotaan, aroma khas martabak telur pancong buatannya menjadi penanda waktu bagi warga sekitar.

Bukan asap gas elpiji yang mengepul, melainkan aroma khas minyak tanah yang bercampur dengan wangi daun bawang segar menjadi ciri khas utamanya. Begitu cetakan besi itu panas, adonan dari campuran tepung, telur, dan bumbu rahasia pun dituang. Cesss! Suara desisan itu seolah menjadi lonceng yang memanggil para pembeli, terutama anak-anak baru pulang mengaji atau sekolah.

“Bang, saya beli bang, telor pancongnya,” pekik anak-anak yang langsung mengerumuni gerobak begitu melihat sosok Wawan, pada Sabtu (11/4/2026) sore hari.

Bagi anak-anak itu, Wawan adalah penjaja jajanan yang ramah. Namun di balik senyumnya yang sumringah, Wawan sedang memutar roda kehidupannya. Ia menawarkan martabak tradisional ini dengan harga terjangkau, hanya Rp2.500 per loyang. Angka yang terbilang langka di tengah harga kebutuhan pokok yang terus merangkak naik.

“Cuma Rp2.500 seloyang martabak telurnya,” ujarnya sambil terus mengaduk adonan dengan telaten, tangan tuanya terbiasa dengan panasnya uap yang mengepul.

Setiap harinya, Wawan menyiapkan satu kilogram telur, dua kilogram tepung, dan setengah liter minyak kelapa. Sederhana, namun menjadi nyawa bagi usaha dagangnya. Di tengah gempuran kuliner modern yang bermunculan di mana-mana, Wawan memilih untuk setia pada cara lama. Ia percaya, cara memasak dengan kompor minyak tanah adalah kunci rasa yang membuat pembeli kangen untuk kembali.

“Ini dek, awas masih panas ya pancongnya. Ini mau pakai saus apa nggak?, biar enak plus pedas?” tanyanya ramah sambil menyerahkan pesanan yang masih mengepulkan uap panas.

Konsistensi Wawan rupanya tak sia-sia. Kini, pria yang telah dikaruniai lima orang cucu itu telah populer di lingkungannya. Ia bukan sekadar pedagang musiman, melainkan bagian dari sejarah kuliner warga Kampung Mede yang hingga kini masih eksis berjualan.

Yanti Oktavia, salah satu warga yang kini sudah menjadi ibu rumah tangga, mengaku tak pernah berhenti menjadi pelanggan setia. Baginya, martabak buatan Wawan adalah rasa masa kecil yang tak tergantikan.

“Abang ini legenda. Dari saya kecil, jaman masih pakai seragam SD, sampai sekarang saya sudah punya anak, beliau masih setia berjualan di sini. Rasanya nggak berubah dan selalu bikin kangen,” kenang Yanti.

Bagi Wawan, berkeliling sambil memikul beban berat bukan sekadar mencari untung. Ia menjaga tradisi, sekaligus menjadi bukti bahwa di sudut kota yang terus berubah, masih ada rasa sederhana yang setia menanti di balik gang sempit Kampung Mede.

(Fahmi)

Editor: D. Rosyadi

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini