infobekasi. co. id – Sejak awal bulan Dzulhijjah, lahan kosong di daerah Jabodetabek khususnya Kota Depok, berubah fungsi menjadi kandang sementara. Belasan sapi berukuran besar tampak berjajar, sementara aroma khas peternakan bercampur dengan semangat menyambut Idul Adha.
Abiyadun, pria berusia 38 tahun asal Bima, NTB ini bukan pedagang hewan ternak tetap. Sehari-hari ia bekerja sebagai abdi negara di salah satu instansi pemerintahan pusat, namun setiap tahun saat Idul Adha tiba, Ia menjelma menjadi pedagang sapi musiman.
“Alhamdulillah, tiap tahun selalu ada rezeki dari jualan sapi. Sudah jalan dua tahun punya kandang mandiri. Sebelumnya hanya iseng-iseng isi waktu saja carikan pembeli yang notabenenya kerabat atau koneksi,” ujarnya Abi sapaan akrab Abiyadun sambil membersihkan kandang dari sisa rumput kering.
Tahun ini, ia membawa puluhan ekor sapi ke Depok. Harganya bervariasi, mulai dari Rp16 juta hingga Rp35 juta per ekor, tergantung berat dan jenisnya.
Menurut Abi, tren pembeli sapi di Depok cenderung meningkat beberapa tahun terakhir, terutama dari kalangan pengurus masjid, kelompok masyarakat hingga para pegawai kantoran yang patungan untuk berkurban. Namun tahun ini walau sukses menjual semua sapi yang ada di kandang, terjadi penurunan daya beli masyarakat membeli sapi qurban.
“Makanya sapi yang banyak diminati yaitu sapi lokal yang ukuran kecil dan sedang karena disesuaikan kemampuan uang. Di kandang saya tersedia sapi lokal Bima, persilangan PO, limosin, Brahman, Bragus,” jelasnya, sambil menunjuk deretan sapi yang sudah laris dijual.
Namun, menjadi pedagang hewan kurban bukan tanpa tantangan. Pria humble dan ramah ini, selalu rutin mengontrol kualitas hewan kurban dan harus menjaga kesehatan sapi-sapi tersebut selama masa tunggu sebelum hari H. Ia juga menghadapi persaingan harga dari pedagang lain yang membanjiri Depok, termasuk yang menjual secara online.
“Sekarang saingannya bukan cuma tetangga sebelah, tapi juga dari Instagram dan marketplace. Tapi alhamdulillah, pembeli masih banyak yang mau lihat langsung. Sebab kita menjaga kepercayaan pembeli, biar jadi langganan tiap tahun. Kepercayaan jadi kunci utama.,” kata Abi, sambil tersenyum.
“Banyak anak muda yang jual online sapi qurban dengan memanfaatkan kemajuan era digital ini. Mereka tidak punya kandang tapi keren cara dagangnya sangat modern. Seperti yang datang ke kandang saya banyak ada muda yang menjual sapi online. Ambil sapinya di semua kandang. Saya jadinya ikut terbantu dalam penjualanya,” imbuhnya.
Bukan hanya itu, Abi memastikan bahwa hewan kurban yang Ia jual sesuai syariat Islam dan sehat layak untuk kurban Idul Adha.
“Yang penting sapi sehat, cukup umur, dan niatnya lurus. Kalau rezeki, insyaAllah ada,” tutupnya, sambil memberikan makan untuk sapi-sapinya.
Momentum Idul Adha bagi Abiyadun bukan hanya tentang ibadah, tapi juga momentum berbagi dan mencari berkah tahunan dari usahanya.
Redaktur : Deros
#KisahAbiyadun #infobekasi #HewanKurban #IdulAdha #Abi





























