Skip to content

Mengadu Nasib dari Depok ke Bekasi, Sarjana Matematika Ini Incar Posisi Manajer Operasi Koperasi Desa

Infobekasi.co.id – Semangat menggebu-gebu demi perubahan nasib terpancar dari sosok Afiful Haidar. Di tengah ribuan peserta memadati Stadion Patriot Candrabhaga, Kota Bekasi, untuk mengikuti seleksi Ujian Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) Koperasi Desa Merah Putih (KDMP), Rabu (20/5/2026), Haidar ingin menunjukkan, bahwa tekad kuat mampu mengalahkan segala rintangan.

Berdomisili di Kecamatan Tapos, Kota Depok, Haidar harus menempuh perjalanan puluhan kilometer menggunakan sepeda motor. Demi hadir tepat waktu dan mengamankan kursi seleksi, Ia rela meninggalkan rumah sejak usai salat Subuh, saat matahari pun belum terbit.

“Pukul 04.30 WIB saya sudah siap-siap berangkat. Tentu saja jadi kurang tidur. Pagi tadi pun belum sempat sarapan, cuma minum air putih saja. Tapi tak apa, alhamdulillah saat istirahat siang tadi saya langsung cari makan untuk mengembalikan tenaga,” tutur Haidar dengan nada optimis saat ditemui awak media Infobekasi.co.id, Rabu (20/5/26).

Perjuangannya tidak hanya berhenti di perjalanan. Ujian seleksi tahun ini berlangsung sangat panjang dan padat, digelar mulai pukul 07.00 hingga 17.00 WIB. Peserta diuji dalam dua babak besar, yakni tes tertulis materi Ideologi serta tes Kesehatan Jiwa yang memerlukan konsentrasi tinggi.

Berbalut pakaian serba putih dan hitam, sarjana lulusan Pendidikan Matematika Kampus Uhamka berusia 25 tahun ini duduk tertib di tribun penonton. Ia tampak serius menyimak instruktur dan fokus menjawab deretan pertanyaan yang diberikan.

“Jumlah soalnya cukup banyak dan menantang. Khusus untuk tes kesehatan jiwa saja ada 567 butir soal dengan estimasi waktu pengerjaan sekitar tiga jam. Memang butuh ketahanan fisik dan mental yang kuat,” jelasnya.

Haidar mendaftarkan diri untuk posisi Manajer Operasi di KDMP, sebuah program strategis nasional digadang-gadang akan menjadi tulang punggung ekonomi baru di tingkat desa dan kelurahan. Pilihan karier ini diambilnya bukan tanpa alasan. Saat ini, ia memang sudah bekerja di lingkungan pendidikan dan turut mengelola koperasi sekolah, namun jiwa mudanya mendambakan ruang lingkup lebih luas dan berdampak langsung ke masyarakat.

“Selama ini saya sudah berkecimpung di koperasi sekolah. Namun, saya ingin belajar lebih dalam dan mengembangkan sistem pengelolaan koperasi jika diterapkan langsung di desa atau kelurahan. Tantangannya pasti lebih besar, manfaatnya pun lebih luas,” tutur anak sulung dari empat bersaudara ini.

Harapan besar tersemat di posisi ini. Meski nantinya berstatus tenaga kontrak, kabar pengelola KDMP akan mendapatkan perlakuan setara pegawai Badan Usaha Milik Negara (BUMN) menjadi daya tarik tersendiri. Bagi Haidar, peluang ini adalah cara untuk mengangkat derajat keluarga, sekaligus jawabannya atas kondisi dunia pendidikan yang menurutnya belum sepenuhnya memberi ruang maksimal bagi para lulusan.

“Jujur, dunia pendidikan dan tenaga pengajar di tanah air ini rasanya masih seperti anak tiri, belum mendapatkan perhatian yang benar-benar maksimal dari negara. Makanya, saya melihat program ini sebagai jalan keluar sekaligus peluang emas. Kami butuh perluasan pasar kerja, dan di sini saya merasa bisa menjadi penggerak sejati,” ucapnya tegas.

Bagi Haidar, kata berhenti belum ada dalam kamus hidupnya. Setelah melewati ujian tertulis yang melelahkan, Ia siap menaklukkan tahapan berikutnya, mulai dari wawancara hingga tes kesehatan fisik. Ia bertekad menyelesaikan perjuangan ini hingga garis finis, demi mewujudkan tema besar program ini: bergerak memberikan dampak nyata bagi desa dan kelurahan di Indonesia.

“Masih ada babak selanjutnya. Kalau ini kan baru bukti kemampuan lewat tulisan, nanti kami akan diuji kemampuan bicara, kepemimpinan, hingga ketahanan fisik. Saya siapkan semuanya, saya yakin usaha tidak akan mengkhianati hasil,” tandasnya.

(Fahmi)

Editor: Dede R

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *