Puluhan Bangunan Liar di Jalan KH. Noer Ali Digusur

ilustrasi-penggusuran-di-jalan-kh-noer-ali-bekasi
Ilustrasi penggusuran bangunan liar di Jalan KH. Noer Ali

BEKASI BARAT – Puluhan bangunan liar (bangli) yang berada di Jalan KH. Noer Ali, Kalimalang Bekasi, Selasa (08/11), rata dengan tanah.

Camat Bekasi Barat, Muhammad Bunyamin, membenarkan bahwa hampir tujuh puluh bangunan liar yang terdiri dari kios pedagang bunga, kios pulsa, warung kelontong, dan warung makan, hari ini diratakan dengan tanah.

Penggusuran bangunan liar tersebut, dikatakan Bunyamin, bukan tanpa alasan. Pasalnya, kios tersebut berdiri di atas lahan fasos-fasum.

“Mereka mendirikan bangunan semi permanen di lahan fasos-fasum sepanjang 250 meter,” tutur Bunyamin kepada infobekasi.co.id, Selasa (08/11).

Untuk proses penggusurannya sendiri, pihak Kecamatan Bekasi Barat, berkoordinasi dengan Dinas Tata Kota Bekasi, Polres Metro Bekasi Kota, Satpol PP Kota Bekasi, aparat TNI, dan kelurahan setempat.

Bahkan sebelum penggusuran tersebut dilaksanakan, pihaknya sudah melayangkan Surat Peringatan (SP) 1 hingga 3 kepada para pedagang.

“Seluruh jajaran kami libatkan dan pedagang pun sebelumnya sudah mendapatkan SP dari kami,” katanya.

Bunyamin pada kesempatan itu juga menegaskan, bagi para pedagang yang tidak mengidahkan surat tersebut dan tidak membongkar bangunannya secara sukarela, maka pihaknyalah yang akan melakukannya.

“Dengan dibantu satu unit beko, kami meratakan bangli tersebut, dan nantinya di lokasi tersebut akan kami bangun pedestrian dan taman,” jelasnya.

Sementara itu, Suryadi, salah seorang pemilik kios mengaku pasrah tempat usahanya diratakan dengan tanah.

Ia mengakui, sebelumnya pihaknya memang sudah mendapatkan SP dari kelurahan setempat.

“Beberapa waktu yang lalu kami sempat bermusyawarah agar penggusurannya bisa ditunda, namun pada kenyataannya hari dilaksanakan penggusuran tanpa adanya persiapan untuk memindahkan barang dagangannya,” kata dia.

Meskipun demikian, Suryadi mengaku bahwa bangunan yang ia dirikan tersebut memang merupakan bangunan liar karena berada di atas tanah pengairan.

“Saya sadar bahwa bangunan saya menyalahi aturan, karena berada di atas tanah pengairan, namun kami minta waktu untuk berbenah diri,” ujarnya. (Apl)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini