Insiden Lagoon Sebuah Pembelajaran

Oleh: Aef Elfath

Peristiwa runtuhnya tangga darurat di lantai 33 proyek Apartemen Grand Kamala Lagoon Rabu (04/01/2017), menyisakan duka. Terutama bagi keluarga korban luka dan meninggal. Namun ada peristiwa yang memberi pelajaran berharga buat kita yang berfikir dan mengambil hikmah dari setiap perjalanan kehidupan.

Pembangunan apartemen Grand Kamala Lagoon, yang dibangun kontraktor Badan Usaha Milik Negara (BUMN) PT PP sejak 2013 itu. Satu sisi, bisa menjadi ikon dan kebanggaan Kota Bekasi seperti halnya Summarecon dan Kawasan Galaksi. Namun kecelakaan kerja adalah suatu hal yang harus dihindari oleh perusahaan besar sekelas PP. Tapi musibah siapa bisa menghindar.

Peristiwa runtuhnya tangga darurat apartemen yang dibangun di Kelurahan Pekayon Jaya, Kecamatan Bekasi Selatan, Kota Bekasi itu menyisakan sebuah kisah seorang pemimpin, kepala daerah yang sangat sederhana dan tawadhu. Ini bukan sekadar pencitraan, tapi memang sikap keseharian yang patut jadi tauladan bagi kita.

Ya, seperti diberitakan beberapa media dan video yang didapat penulis. Seorang Wakil Walikota Bekasi, H Ahmad Syaikhu, sempat dihalangi bahkan dibentak oleh seorang Satpam Apartemen saat beliau hendak meninjau lokasi runtuhnya tangga darurat.

Bentakan sang satpam sempat membuat ricuh dan terpancingnya emosi Kepala Satpol PP Kota Bekasi.

Namun, Syaikhu yang juga dikenal ustad ini tetap diam dan tidak menunjukkan sikap angkuh sebagai salah satu penentu kebijakan di Kota Bekasi. Syaikhu hanya diam dan memandang hampa peristiwa kisruh dan saling hentak antara Satpam Apartemen dan Kasatpol PP. Meski sempat terhenti 15 menit untuk masuk ke lokasi, akhirnya pihak pengelola minta maaf dan mengizinkan Syaikhu masuk dan meninjau TKP.

“Yang saya pikir bagaimana kondisi korban. Sejauhmana kondisi dan pertolongan yang sudah diberikan,” ujar Syaikhu kepada penulis.

Menurut Syaikhu, “Keselamatan dan kesehatan kerja karyawan atau pekerja merupakan persyaratan perdagangan global dan upaya manajemen perusahaan untuk melindungi kerugian akibat kecelakaan kerja, menciptakan tempat kerja yang sehat, aman dan produktif, serta merupakan kebutuhan dan hak pekerja dalam mencapai kesejahteraan,”.

Mungkin jika pejabat lain, akan mencak-mencak dan balik mengancam. Tapi tidak dengan Syaikhu. Tetap diam dan tawadhu. Meski sikap tawadhu itu sempat membuat sebagian warga Kota Bekas merasa terhina, karena pimpinannya diperlakukan kurang hormat. Hingga menimbulkan demonstrasi ke apartemen dan melapor ke Polres Kota Bekasi. Namun sang ustad saat ditanya bagaimana sikap warga. Beliau hanya bicara bahwa yang utama dari itu semua adalah menyelamatkan dan proses pencarian korban. ‘Kita harus tetap fokus pada korban”

Pelajaran berharga selain terkait keselamatan kerja. Yang utama adalah sikap seorang pemimpin yang bekerja dengan hati dan kesabaran. Sebuah sikap tawadhu, yakni sebuah sikap merendahkan diri meski kita dalam posisi benar dan memilik kekuasaan.

‘Tawadhu’ adalah ketundukan kepada kebenaran dan menerimanya dari siapapun datangnya baik ketika suka atau dalam keadaan marah. Artinya, janganlah kamu memandang dirimu berada di atas semua orang. Atau engkau menganggap semua orang membutuhkan dirimu. Seperti diajarkan Rasulallah SAW dalam haditsnya:

“Sesungguhnya Allah telah mewahyukan kepadaku agar kalian merendahkan diri sehingga seseorang tidak menyombongkan diri atas yang lain dan tidak berbuat zhalim atas yang lain.” (Shahih, HR Muslim no. 2588).

Demikianlah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengingatkan kepada kita bahwa tawadhu’ itu sebagai sebab tersebarnya persatuan dan persamaan derajat, keadilan dan kebaikan di tengah-tengah manusia sebagaimana sifat sombong akan melahirkan keangkuhan yang mengakibatkan memperlakukan orang lain dengan kesombongan.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini