Skip to content

Kerang Menyusut Akibat Limbah, Nasib Nelayan Pantai Makmur Berubah Drastis

infobekasi.co.id – Di sudut Desa Pantai Makmur, Kecamatan Tarumajaya, Kabupaten Bekasi, ada sebuah kampung di mana sebagian besar warganya bekerja sebagai nelayan pemburu kerang hijau. Kampung ini cukup terkenal, banyak pedagang maupun warga dari Kota Bekasi, Kabupaten Bekasi, hingga Karawang datang berburu kerang di sini. Harganya terjangkau, sekitar Rp22.000 hingga Rp25.000 per ember, berisi 5-6 kilogram kerang yang belum dibersihkan, dengan kualitas yang cukup baik.

Namun, seiring berkembangnya wilayah, maraknya kawasan industri menimbulkan kekhawatiran bagi para nelayan. Pasalnya, limbah perusahaan mulai mengotori perairan pesisir dan membuat pertumbuhan kerang menjadi terhambat.

Samsur, pria berusia 58 tahun, salah satu nelayan kerang setempat, menuturkan, beberapa tahun silam, tercatat sekitar 60 hingga 70 warga yang menggantungkan hidup dari hasil laut ini. Kini jumlah itu menyusut menjadi belasan orang saja. Penyebabnya, adanya zat pencemar membuat populasi kerang hijau makin berkurang drastis.

“Banyak industri yang membuang limbah ke laut. Akibatnya, sekitar 70 persen penghasilan nelayan hilang. Kerang mati, ikan pun tak lagi mendekati pinggir laut. Padahal kami adalah nelayan pesisir yang seluruhnya bekerja di kawasan perairan dangkal,” ungkap Samsur saat ditemui infobekasi, Minggu (21/6/26).

Menurut pengakuannya, pencemaran makin terasa nyata sejak Mei 2026 dan sangat berdampak buruk pada hasil tangkapan. Dulu, dalam sehari satu orang bisa membawa pulang 60-70 ember kerang; kini jumlah itu turun drastis menjadi hanya 6 hingga 12 ember saja. Padahal hingga bulan Februari lalu, kondisi air laut masih terlihat sangat baik.

“Dulu minimal dapat 30 ember, biasanya sampai 40-50 ember. Sekarang paling dapat 6 ember, paling maksimal pun hanya 12 ember. Harga satu ember berkisar Rp20.000 hingga Rp22.000. Pada bulan Februari dan Maret kerang masih sangat banyak, baru mulai sepi sejak bulan Mei,” tambahnya.

Dari puluhan nelayan yang dulu bergantung sepenuhnya pada laut, hampir separuh kini sudah berhenti melaut. Bukan karena ingin berhenti, melainkan karena tak ada pilihan lain agar kebutuhan hidup dan biaya sekolah anak tetap terpenuhi. Demi bertahan, banyak di antara mereka terpaksa beralih profesi menjadi buruh serabutan hingga pemulung.

“Sekarang yang bertahan tersisa belasan orang saja, itupun terpaksa. Kalau tidak melaut, bagaimana anak bisa sekolah?. Saya sendiri sempat dua minggu menganggur lalu mencari kerja serabutan. Ada juga teman sesama nelayan yang jadi kuli panggul, bahkan ada yang menjadi pemulung,” keluh Samsur.

(Aris/Ded)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *