Sekretaris Dinkes Kota Bekasi : Ayo Lindungi Keluarga Anda dari DBD!

BEKASI BARAT – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bekasi, meminta agar warga mewaspadai ancaman penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) di musim penghujan kali ini.

Melalui Sekretaris Dinkes Kota Bekasi, Tanti Rohilawati, mengatakan DBD merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus dengue.

Sedangkan untuk virusnya sendiri, Tanti menjelaskan, ada empat jenis, diantaranya virus DEN-1, DEN-2, DEN-3 serta DEN-4.

“Ada empat jenis virus dengue. Virus-virus tersebut yakni DEN-1, 2, 3, dan DEN-4. Keempat virus tersebut ditularkan melalui nyamuk Aedes sp,” katanya kepada infobekasi.co.id, Kamis (16/02).

Seperti di Asia Tenggara, khususnya Indonesia, penyakit DBD disebabkan oleh virus dengue tipe DEN-2 dan DEN-3. Masing-masing virus tersebut memiliki jenis streotipe yang berbeda, dan umumnya jika pasien telah terserang salah satu jenis virus dengue, maka akan terjadi kekebalan seumur hidup terhadap virus tersebut. Namun, tidak memiliki kekebalan terhadap jenis virus dengue yang lainnya. Sedangkan jenis virus dengue tipe DEN-3 merupakan penyebab penyakit DBD terberat yang biasanya berujung kematian.

“Penyakit DBD belakangan ini cukup menaruh perhatian serius akibat tingginya angka kejadian DBD setiap tahun. Perubahan cuaca di Indonesia yang tidak menentu merupakan salah satu faktor pendorongnya,” ujar dia.

Selain itu pula, cuaca yang panas dan lembab merupakan suhu yang sesuai untuk perkembangbiakan nyamuk Aedes sp.

Sambung Tanti, gejala penyakit DBD yang sering timbul hampir serupa dengan penyakit demam tifoid dan cikungunya, namun ciri khas secara spesifik penyakit DBD adalah munculnya ruam-ruam merah yang tidak menghilang jika kulit ditekan dan menurunnya kadar trombosit darah hingga di bawah 100.000/mm3 saat dilakukan uji laboratorium.

“Sedangkan gejala lainnya berupa demam tinggi secara terus menerus, diare, dan muntah atau mual, sakit kepala, nyeri pada kaki dan sendi,” tutur Tanti.

Tanti mengatakan, jika ada warga yang pada dirinya mengalami gejala yang serupa, maka ia mengimbau, untuk pertolongan pertama adalah dengan pemberian paracetamol jika demam, oralit jika terjadi diare, dan pemberian antibiotik untuk mengurangi infeksi lebih lanjut.

Ia menyatakan bahwa fogging merupakan sebuah metode yang efektif dalam mencegah penyakit DBD. Dengan cara inilah maka nyamuk-nyamuk dewasa yang membawa virus akan mati.

Namun, dewasa ini fogging tidak lagi dilakukan, karena telur-telur nyamuk yang telah mengandung virus dengue tetap hidup dan akan menetas menjadi larva, kemudian bertumbuh pesat menjadi pupa yang siap menjadi nyamuk dewasa.

Jadi, kata dia, fogging hanya efektif untuk memutus penyakit DBD rantai pertama, itu pun dengan catatan, fogging dilakukan dengan benar. Sedangkan fogging itu sendiri tidak dapat membunuh telur, larva, dan pupa nyamuk.

“Kesimpulannya, fogging hanya dapat mencegah penularan penyakit DBD sementara,” imbuhnya.

Sedangkan untuk metode pemberantasan sarang nyamuk yang dilakukan setiap hari lebih efektif daripada melakukan pengasapan tersebut.

Selain itu, fogging juga dapat menimbulkan beberapa bahaya bagi kesehatan manusia, yaitu gangguan pernafasan, ginjal, gangguang saraf, dan gangguan lainnya akibat adanya bahan kimia yang bersifat karsinogenik serta pencemaran udara oleh bahan kimia yang digunakan, serta dapat mengakibatkan keracunan.

Dari segi biaya pun kurang efektif, karena dibutuhkan biaya yang cukup besar.

Banyak hal yang dapat dilakukan untuk menghindari gigitan nyamuk aedes sp yang mengandung virus DBD, yaitu dengan melakukan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN), melakukan 3M (Menguras, Mengubur dan Menutup), menghindari menggantung pakaian, dan memberikan bubuk abate pada tempat-tempat penampungan nyamuk.

“Dan pemeriksaan jentik-jentik nyamuk di tempat-tempat genangan air seperti bak mandi, air buangan cuci piring, kaleng-kaleng atau botol-botol bekas, vas bunga, dan tempat pembuangan air pada dispenser dan lemari es, serta 3M dapat dilakukan minimal satu minggu sekali,” kata dia.

Selain itu pula, pemberdayaan masyarakat, kemitraan berwawasan bebas DBD, dan pembangunan berwawasan kesehatan, juga merupakan upaya yang dilakukan oleh pemerintah dalam mencegah dan menanggulangi penyakit ini.

Sedangkan peran serta masyarakat sangat dibutuhkan untuk mensukseskan program penanggulangan DBD, seperti gerakan satu rumah satu juru pemantau jentik (jumantik).

Dan hal ini berarti penanggulangan DBD dapat dilakukan dari lingkup seperti rumah, sekolah, perkantoran dan tempat ibadah.

“Ayo lindungi keluarga anda dari ancaman DBD dengan 3M dan PSN!” ajaknya. (ADV/Apl)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini