Komite Nasional Pemuda Indonesia atau lebih populer dengan sebutan KNPI. Akhir-akhir ini jadi pembicaraan di media massa Bekasi. Meski menjadi topik pemberitaan sejumlah media lokal, penulis tak terlalu yakin KNPI dikenal khayalak pemuda. Bisa jadi pemuda Bekasi lebih kenal organisasi kepemudaan semacam Pemuda Pancasila atau HMI.
Tentu ada banyak hal yang menyebabkan KNPI tak begitu dikenal pemuda Bekasi. Oya, ini sekadar dugaan saja jika KNPI tak begitu populer di tengah pemuda Bekasi. Jika Anda penasaran, survey saja, seberapa tingkat popularitas KNPI. Tentu ini persoalan kiprah saja. Kiprah memiliki pengaruh pada tingkat popularitas.
Sepanjang pengetahuan penulis, KNPI setelah kepengurusan Idrus Marham kerap dilanda konflik. Mulai skala sedang hingga guncangan berat. Setelah orde baru bubar, konflik KNPI sering kali berujung pada dualisme kepemimpinan. Alih-alih menjadi rumah bagi semua komponen kepemudaan, KNPI gagal memberikan resonansi pada kemajuan Indonesia. Gagal menjadi perekat antar gerbong kepemudaan.
Konflik berakhir ketika kepengurusan berakhir, namun konflik dualisme kepemimpinan kembali lahir pada kepengurusan berikutnya. Sambung menyambung terus berkelanjutan konflik dualisme dalam tubuh KNPI. Meski sudah menempuh jalur hukum, konflik belum menunjukkan tanda-tanda terbitnya fajar kebersamaan.
Dualisme kepemimpinan KNPI beranak pinak dari tingkat pusat hingga cabang, seperti Kota Bekasi. Konflik dualisme kepemimpinan KNPI di Kota Bekasi justru lebih lasat karena menggiring Walikota Bekasi Rahmat Effendi ke pusaran konflik. Aduh, kok walikota dilibatkan pada konflik anak muda ini….? Semoga saja bukan walikota yang menggelincirkan diri pada urusan ini.
Ini katanya loh ya….! Dualisme kepengurusan KNPI Kota Bekasi bermula ketika Walikota Bekasi menghadiri pelantikan Beny Surya sebagai ketua. Beny Surya dilantik Ketua KNPI Jawa Barat Saca Suhendi. Untuk diketahui, KNPI Jawa Barat memiliki kepengurusan ganda. Kubu Saca Suhendi menginduk pada kepengurusan DPP KNPI Rifai Darus. Sementara Siti Aisyah, Ketua KNPI Jawa Barat yang mendapat legimitasi kepengurusan DPP KNPI kongres luar biasa Fahd El Fouz Arafiq.
Gimane, ribet kan….? Sudah kayak partai politik aje. Main kubu-kubuan.
Terus masalahnya dimana sehingga Walikota Bekasi berkujut dalam perkara dualisme kepengurusan KNPI…? Babnya, Fahd El Fouz Arafiq yang juga Ketua DPP Partai Golkar tak terima Walikota Bekasi Rahmat Effendi yang juga Bos Golkar Kota Bekasi menghadiri acara pelantikan kepengurusan Beny Surya. Tak mau kalah, kubu Siti Aisyah melantik Mochtar Mohammad Junior (Gilang Esa Mohamad) menjadi Ketua KNPI Kota Bekasi.
Runyam bin kusut kan….? Begini nih jadinya, ketika pemuda melibatkan dirinya pada politik kekuasaan. Apa yang didapat pemuda dari konflik kekuasaan ini? Air besar sampan tak hanyut.
Etdah, kalo dah begini ceritanye, KNPI sebagai wadah yang bisa menyatukan segenap potensi komponen pemuda hanya mimpi indah. Angan-angan menerauang langit.
Pertanyaan pamungkas, masihkah relevan KNPI sebagai rumah bagi semua komponen kepemudaan…? Atau jangan-jangan organisasi kepemudaan perlu wadah baru dengan konsep dan model yang relevan dengan zamannya. Nyok kita pikirkan. (***)








































