Terlibat Kasus Meikarta, Neneng Mengaku Kapok Jadi Bupati Bekasi

Infobekasi.co.id – Terdakwa kasus suap izin proyek Meikarta, mantan Bupati Bekasi Neneng Hassanah Yasin mengaku hanya menerima Rp 10 miliar dari Lippo dari yang dijanjikan Rp 20 miliar.

“Meikarta ini adalah proyek Lippo. Saya tahu saat itu PT Lippo minta IPPT (izin peruntukan penggunaan tanah),” kata Neneng Hassanah Yasin dalam persidangan di Pengadilan Tipikor Bandung, Rabu (10/4).

Menurut Neneng, IPPT yang diajukan oleh Lippo seluas 400 hektare. Pengajuan diterima oleh EY Taufik sebagai Kepala Bidang Tata Ruang Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Bekasi.

“EY Taufik datang dan bilang mau memberikan Rp 20 miliar untuk 400 hektare. Saya bilang ‘jalani saja’. Rp 20 miliar itu untuk IPPT,” katanya.

Menurut Neneng, EY Taufik ketika itum menyebut akan ada perwakilan Lippo yang meminta bertemunya. Utusan Lippo tersebut yakni Satriadi dan Edi Soesianto. Kemudian, Neneng Hassanah Yasin bersedia bertemu dengan kedua orang tersebut.

“Waktu itu, Pak Edi Soes (Edi Soesianto) memohon IPPT. Saat itu tidak bicara uang. Saya bilang, ‘Ya silakan saja diurus’,” kata Neneng Hassanah Yasin.

“Ada bicara uang atau tidak? Menawarakan atau bagaimana?,” tanya jaksa KPK.

“Bicara uang hanya dengan EY Taufik. Yang menyampaikan pemberian Rp 20 miliar (adalah) EY Taufik,” kata Neneng polisi Partai Golkar ini.

Setelah IPPT tahap awal terbit, sang Neneng bertemu kembali dengan EY Taufik. Dalam pertemuan itu, Neneng Hassanah Yasin menanyakan kepada EY Taufik terkait janji Rp 20 miliar dari Lippo.

“Ya karena memang EY Taufik yang bilang (ada janji Rp 20 miliar), kenapa tidak,” katanya.

Setelah itu, Neneng Hassanah Yasin mengaku hanya setengah dari janji tersebut yang terealisasi yakni Rp 10 miliar. Ia mengatakan, pemberian tersebut diberikan secara bertahap.

“Saya sebetulnya tidak tahu, saya tidak paksakan itu. Saya cuma terima Rp 10 miliar dan penyerahannya bertahap,” kata dia.

Setelah kasus itu terungkap oleh KPK, Neneng Hasanah Yasin menyesal. Dia telah mengundurkan diri dari Bupati Bekasi. Dia mengaku kapok menjadi kepala daerah saat ditanya pengacaranya dan juga tak mau lagi terlibat di urusan partai politik.

“Apakah mau kembali menjadi bupati?” tanya pengacara.

“Tidak ingin,” kata Neneng sambil menangis. “Intinya saya merasa bersalah,” kata dia. (adt)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini