Skip to content

‘Singa Podium’ KH Syukron Ma’mun Tutup Usia, Indonesia Kehilangan Ulama Besar

Infobekasi.co.id – Dunia Islam dan kalangan pesantren Indonesia kembali diselimuti awan duka mendalam. Ulama karismatik yang dikenal sebagai “Singa Podium”, KH Syukron Ma’mun, wafat pada hari Minggu, 18 Oktober 2026. Pengasuh Pondok Pesantren Daarul Rahman Jakarta tersebut mengembuskan napas terakhirnya dalam usia 84 tahun.

Kabar duka ini ramai beredar di jejaring media sosial dan dikonfirmasi pihak keluarga besar pesantren dan jajaran pengurus Nahdlatul Ulama (NU). Kepergian ulama kelahiran Madura ini menyisakan kesedihan mendalam bagi jutaan santri, alumni, serta umat Islam di seluruh penjuru tanah air. Saat ini, jenazah almarhum disemayamkan di kompleks Pondok Pesantren Daarul Rahman, Jakarta. Pihak keluarga maupun pengurus pesantren belum merilis pernyataan resmi mengenai penyebab wafatnya sang ulama, serta rincian waktu prosesi pemakaman.

KH Syukron Ma’mun lahir di Sampang, Madura, Jawa Timur, pada 21 Desember 1941. Ia lahir dari lingkungan keluarga yang memegang teguh tradisi keagamaan kuat. Sejak usia muda, Kiai Syukron melanglang buana menimba ilmu keagamaan di berbagai pesantren besar, mulai dari Pondok Pesantren Sidogiri Pasuruan hingga Pondok Modern Darussalam Gontor Ponorogo.

Julukan “Singa Podium” melekat kuat karena kepiawaian, kelantangan, dan ketegasannya setiap kali menyampaikan dakwah di atas mimbar. Setelah hijrah ke Jakarta, dedikasinya pada dunia pendidikan formal diwujudkan dengan mendirikan Pondok Pesantren Daarul Rahman. Lembaga ini bertumbuh menjadi salah satu benteng pencetak dai dan ulama terkemuka di Indonesia.

Dalam perjalanan hidupnya sebagai singa podium dan pemikir, KH Syukron Ma’mun memiliki keterikatan pemikiran yang sangat kuat dengan KH Noer Ali (1914-1992), ulama pejuang sekaligus Pahlawan Nasional asal Bekasi. Kiai Syukron dikenal sebagai salah satu tokoh nasional yang paling lantang menyuarakan agar generasi muda merefleksikan tindakan politik dan keteladanan KH Noer Ali dalam menjaga persatuan umat.

Kiai Syukron sangat mengagumi komitmen kebangsaan KH Noer Ali. Salah satu sejarah yang sering diangkat oleh Kiai Syukron adalah ketika terjadi ketegangan politik pada tahun 1952, di mana Nahdlatul Ulama memilih keluar dari Masyumi. Di saat polarisasi rawan terjadi, KH Noer Ali sangat mencintai persatuan justru berinisiatif meminta basis massa dan anak buahnya untuk mendirikan cabang partai Nahdlatul Ulama di Bekasi demi meredam perpecahan dan merangkul semua golongan.

Bagi KH Syukron Ma’mun, komitmen KH Noer Ali yang mengedepankan kemaslahatan umat di atas ego kelompok adalah teladan politik Islam tertinggi. Gagasan persatuan tanpa memandang bendera parpol atau ormas inilah yang diadopsi oleh Kiai Syukron dalam kiprah dakwahnya, baik saat memimpin partai politik maupun dalam membesarkan Pondok Pesantren Daarul Rahman di ibu kota.

Kini, sang “Singa Podium” telah menyusul para pendahulunya menghadap Sang Khalik. Perjuangan dan estafet dakwah diteruskan oleh putra-putrinya, termasuk Dr. KH Muhammad Faiz Syukron Ma’mun (Gus Faiz) yang saat ini mengemban amanah sebagai Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) DKI Jakarta.

(ded)

Foto: istimewa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *