Skip to content

7 Fakta Ular Cobra Mulai Menetas dan Hidup di Lingkungan Permukiman Penduduk

Infobekasi.co.id – Yayasan Sioux Ular Indonesia menyebut bahwa memasuki musim hujan terutama di bulan November sampai Desember merupakan bulan menetaskan ular cobra. Hal ini merupakan siklus alami.

Karena itu, tidak heran jika banyak ditemukan anakan ular cobra di lingkungan permukiman masyarakat. Sebab, pada bulan Agustus-September merupakan musim kawin hewan tersebut.

Yayasan Sioux Ular Indonesia memberikan 7 fakta tentang ular cobra yang mulai menetas dan berada di lingkungan permukiman warga:

Pertama, ular merupakan satwa liar yang habitatnya dekat dengan manusia. Kemudian mereka mendapatkan makanan di sekitar tempat tinggal masyarakat. Sehingga induk ular secara insting akan menaruh telurnya di lokasi yang banyak makanan hingga mencukupi untuk kebtuhan anak-anaknya nanti.

Kedua, ular ialah satwa yang mampu beradaptasi cepat dengan lingkungan baru, kemudian termasuk pembangunan kawasan yang awalnya adalah habitat mereka. Meskipun tergusur, ular dapat bertahan hidup di sela sela pondasi dan rumah warga.

Ketiga, Ular adalah satwa soliter, yang hidup sendiri dan bukan berkelompok sehingga sulit diketahui keberadaannya. Jika ada temuan satu ekor ular, tidak berarti ada kawanannya di sekitar mereka. Ular sangat pintar bersembunyi.

Keempat, ular diantaranya tidak membuat sarang. Sarang adalah tempat tinggal satwa, jika ular keluar mencari makan berarti dia akan balik lagi ke tempat yang sama. Sedangkan ular mempunyai sifat nomaden atau berpindah pindah. Kemudian kalau ditemukan lubang hasil dari adanya tetasan telur ular, itu adalah tempat induk ular menaruh telurnya dan ditinggal. Induk ular tidak mengerami telur ular.

Kelima, makanan ular / prey (mangsa) banyak di temukan di sekitar hunian masyarakat. Seperti diantaranya yakni cacing, jangkrik, kadal, kodok, tikus hingga burung yang merupakan makanan alami dari ular sehingga mudah ditemukan. Kemudian mangsa mangsa ini akan mengundang ular hadir di sekitar tempat tinggal warga dan jika ada area yang nyaman, ular akan berkembang biak.

Keenam, predator alami ular semakin menipis / berkurang jumlahnya, sehingga tidak ada kontrol populasi ular secara alami di alam. Oleh sebab itu, perlu menjaga keberdaan hewan seperti musang atau biawak yang merupakan satwa pemangsa telur serta bayi ular. Begitu pula burung karnivora (elang, burung hantu) yang merupakan pemangsa ular paling efektif di alam.

Ketujuh, bagi kawasan rumah masyarakat kampung /perumahan / cluster. Terdapat area yang tidak pernah dibersihkan / dirawat dari lokasi tersebut maka tempat itu akan memberikan lokasi nyaman bagi ular untuk berkembang biak dan ketersediaan makanan melimpah. Lalu, seperti sudut-sudut gelap dan liar ini yang juga nantinya menjadi tempat yang dicari oleh induk ular meletakkan telurnya dan ditinggal.

Kontributor: Denny Arya Putra

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *