Fenomena Aging Population: Antara Peluang dan Tanggung Jawab Generasi
Infobekasi.co.id – Kita kerap menyebut Indonesia sebagai negeri muda yang kaya tenaga kerja. Namun di balik itu, ada kenyataan yang perlahan namun pasti datang: Indonesia sedang menua. Bukan di masa depan yang jauh, melainkan sekarang.
Sejak tahun 2025, Indonesia secara resmi masuk kategori masyarakat menua atau aging population. Berdasarkan standar BPS dan PBB, sebuah negara disebut masyarakat menua jika 10 persen atau lebih penduduknya berusia 60 tahun ke atas. Angka kita sudah melampaui batas itu: saat ini 12 persen warga Indonesia berusia 60 tahun ke atas. Pada 2045, tahun Emas yang kita banggakan, proporsi ini diproyeksikan melonjak melampaui 20 persen. Artinya, satu dari setiap lima orang di sekitar kita adalah warga lanjut usia.
Saat ini sekitar 69 persen penduduk masih berada di usia produktif. Namun bonus demografi ini tak akan bertahan selamanya. Dalam sepuluh hingga lima belas tahun ke depan, struktur usia kita akan berubah drastis.
Mengapa Kita Menua Lebih Cepat?
Dua hal terjadi secara bersamaan: kelahiran makin sedikit dan orang hidup makin lama.
Tingkat kelahiran turun tajam, dari rata-rata 3,11 anak per keluarga pada 1990-an menjadi 2,13 anak saat ini, dan diproyeksikan tinggal 1,97 anak pada 2045. Di saat yang sama, harapan hidup meningkat karena perbaikan layanan kesehatan dan kesejahteraan. Hasilnya: rasio orang tua makin banyak, generasi penerus makin sedikit.
Beban yang Tak Terlihat
Ini bukan sekadar soal statistik. Ini soal kehidupan nyata. Riset DBS Foundation tahun 2025 menggambarkan gambaran yang memprihatinkan:
– Hampir 83 persen lansia masih bergantung sepenuhnya pada anak atau cucu untuk bertahan hidup. Kurang dari satu persen yang mampu mandiri dari tabungan atau investasi.
– Lebih dari 55 persen lansia masih harus bekerja. Sebagian besar hampir 85 persen berada di sektor informal tanpa jaminan hari tua, tanpa perlindungan kesehatan yang memadai.
Di usia yang seharusnya dihabiskan untuk istirahat, mereka masih berjuang memenuhi kebutuhan dasar. Jika tidak disiapkan dari sekarang, generasi muda hari ini akan terjebak sebagai generasi terhimpit: membiayai anak sekaligus menanggung orang tua.
Apa yang Harus Dilakukan?
Menghadapi masyarakat menua tidak bisa dilakukan mendadak. Harus dimulai dari sekarang:
Pertama, kesadaran finansial sejak dini. Menabung saja tidak cukup. Diperlukan perencanaan jangka panjang, dana pensiun, asuransi kesehatan, dan investasi yang dimulai sejak usia produktif.
Kedua, menjaga kesehatan sebagai investasi masa depan. Menua itu pasti, tetapi menua dalam kondisi sakit itu pilihan. Pola hidup sehat hari ini menentukan kualitas hidup di masa tua.
Ketiga, peran negara dan dunia usaha tak tergantikan. Diperlukan sistem jaminan sosial yang kokoh, layanan kesehatan yang ramah lansia, serta kesempatan kerja yang adil bagi warga usia lanjut.
Negara-negara seperti Jepang dan Korea Selatan telah melewati jalan ini lebih dulu. Pertanyaannya bukan apakah Indonesia akan menua, melainkan seberapa siap kita menyambutnya. Bonus demografi yang kita miliki adalah kesempatan emas, bukan sekadar pesta yang dinikmati lalu dilupakan.
Apakah kita akan berdiri sebagai bangsa yang siap menyambut masa, atau sekadar penonton yang dikejar waktu? Jawabannya ada pada apa yang kita lakukan sekarang.
Penulis : Abdoel Majied


