Nelayan Muaragembong Bekasi Keluhkan Hasil Laut Anjlok

Infobekasi.co.id – Hasil laut para nelayan di pesisir pantai Muaragembong, Kabupaten Bekasi anjlok sejak pandemi Covid-19. Salah satu hasil laut yang dikeluhkan nelayan yakni kepiting.

Anjloknya hasil laut menyebabkan mereka saat ini sulit melaut. Karena biaya operasiona yang dikeluarkan tidak sebanding dengan hasil tangkapan.

Yasin (45), nelayan di pesisir Muaragembong mengatakan, harga kepiting awalnya berkisar antara Rp80 ribu sampai Rp120 ribu per kilogram. Namun, beberapa waktu lalu harga kepiting pernah mencapai Rp 20 ribu per kilogram.

“Biasanya dapet kepiting dijual tapi sekarang harganya lagi turun. Hari ini cuma Rp20 ribu sampai Rp25 ribu  (per kilogram). Mana susah dapatnya,” ucap warga Desa Pantai Bahagia ini.

Selain harganya yang anjlok, kondisi laut yang tercemar limbah juga menyebabkan Yasin sulit melaut. Situasi ini pun juga dialami oleh nelayan lainnya.

Heri (33), nelayan lainnya juga mengeluhkan hal yang sama. Minimnya tangkalan hasil laut terutama kepiting membuat dia harus berpikir dua kali untuk melaut.

“Ya dapat kepiting udah sulit sekarang-sekarang, apalagi dengan harga yang menurun,” katanya.

Akibat harga yang anjlok, pendapatannya pun turut merosot. Jaka sebelumnya bisa mendapatkan Rp150 ribu-Rp200 ribu per hari. Namun kini, dia hanya memperoleh penghasilan Rp50 ribu per hari.

“Biasanya dapet kepiting ya dapet lah Rp50 ribu, Rp40 ribu, kadang juga gak dapet. Soalnya udah beberapa waktu ini sudah banget dapetnya. Ini kalau untuk kebutuhan sehari-hari cukup gak cukup ya segitu,” ucapnya.

Sekretaris Desa Pantai Bahagia, Ahmad Qurtubi membenarkan hasil tangkapan nelayan merosot. Keluhan dari para nelayan ini telah disampaikan sejak beberapa bulan lalu kemudian diteruskan ke pemerintah daerah.

“Keluhan para nelayan ini memang masuk ke kami. Memang kondisi di laut lagi susah, makanya kadang enggak setiap ke laut itu dapat ikan, apalagi kepiting. Keluhan ini sebenarnya sudah disampaikan ke pemerintah, kami berharap ada tindak lanjutnya,” ucapnya.

Qurtubi mengatakan, hampir 75 persen warga Desa Pantai Bahagia menggantungkan hidupnya pada hasil laut, baik sebagai nelayan maupun pedagang ikan. Akibat tangkapan ikan yang makin tidak maksimal, kondisi keseharian warga di Muaragembong pun sulit.

Kondisi ini terjadi sejak beberapa tahun terakhir. Qurtubi mengatakan, menurunnya harga jual dan hasil tangkapan nelayan menjadi salah satu faktor meningkatkannya angka kemiskinan di Desa Pantai Bahagia.

“Pak Yasin dan Heri merupakan dua dari seribu warga yang terdampak. Mereka tinggal di tempat yang belum layak bahkan gubuknya yang hanya berukuran 3×4 meter. WC-nya pun belum ada jadi untuk kebutuhan MCK di luar. Ini persoalan yang ditimbulkan dari menurunnya tangkapan ikan yang tidak kunjung ditindaklanjuti,” kata Qurtubi.(kendra)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini