infobekasi.co.id – Hampir tiap pagi dan sore hari kita disuguhi informasi kemacetan di beberapa ruas titik jalan raya Bekasi. Kemacetan di Bekasi seakan sudah ‘level stadium 4’. Sudah kronis dan butuh solusi.
Sebab, saat bangun tidur kebiasaan warga 62 ini mencari handpone melihat status jejaring sosial dan berita pagi hari.
Ada saja berita tentang kemacetan pada pagi hari yang diposting netizen saat berangkat kerja. Entah sampai kapan macet ini teratasi.
Macet menjadi persoalan utama, bukan hanya di Jakarta saja. Bekasi pun demikian. Beberapa waktu lalu ada pemberitaan di Bekasi, dua orang pengendara motor baku hantam di jalan, lantaran berebut jalur. Main dulu-duluan, tidak mau mengalah.
Ada juga pengendara motor yang berkendara di atas trotoar jalan, melawan arah cari jalan pintas. Alasannya klasik, agar tak ketinggalan masuk kantor dan tidak telat absen.
Pada sore harinya juga demikian, informasi tentang kemacetan kerap berseliweran di media sosial saat jam pulang kerja.
Semisal, langganan macet di jembatan besi arah Karang Congok, pertigaan Rawa Silam depan POM Bensin Chandrabaga arah Ujungharapan.
Kemacetan menjadi momok bagi para pejuang rupiah alias pekerja. Pagi hari terjebak macet, sore harinya pun begitu juga. Istilahnya, tua di jalan.
Itu tentang macet. Belum lagi persoalan membuang sampah sembarangan kerap terekam CCTV. Mereka dengan santai, tidak punya rasa bersalah kadang melempar sampah ke pinggir jalan, bahkan ke kali.
Bahkan, berapa waktu lalu viral, ada sampah yang menggunung di daerah Bintara, Bekasi, lantaran warga kerap membuang sampah tiap hari. Lahan yang tadinya kebun kosong menjadi gunungan sampah.
Ini menjadi persoalan krusial. Sebab, jika musim hujan turun terjadi banjir, lantas saling menyalahkan. Saling menuding dan baru sadar bahwa budaya membuang sampah sembarangan bakal menimbulkan bencana dan penyakit.
Terakhir, soal polusi udara di Bekasi. Mengutip data IQA AirVisual, Kondisi udara di Bekasi kerap menunjukan tidak sehat untuk kesehatan manusia saat beraktifitas di luar ruangan.
Bahkan persoalan polusi udara ini sampai ke pemerintah pusat. Dan Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil berencana menerapkan Work Form Home (WFH) di wilayah bodetabek.
Hal ini menjadi Pekerjaan Rumah (PR) bagi semua pihak. Bukan sibuk menyalahkan pemerintah. Rasanya jauh dari harapan, jika budaya tertib lalu lintas, kebersihan, pola hidup sehat masyarakat masih minim alias masih ‘bandel’.
Mengutip potongan ayat QS. Al-Ruum/30:41: Kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia.
Rawatlah alam, niscaya alam bakal menjagamu !
(Deros/Dede Rosyadi)






























