infobekasi.co.id – Wilayah Jumalang (kini Ujung Harapan), terletak di Kecamatan Babelan, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, dengan luas 618 hektare. Dulu, di awal tahun 1900-an, desa ini termasuk wilayah Order District Babelan, Distrik Bekasi, Regentschap (Kabupaten) Meester Cornelis, bagian dari pemerintahan Batavia zaman Belanda. Desa ini berada di tepi laut utara Jawa Barat, dengan cuaca yang cenderung panas.
Wilayah Ujung Harapan ini berbatasan dengan Kebalen di timur, Kaliabang Tengah di barat, Teluk Pucung di selatan, Desa Babelan Kota di utara.
Era 90-an, pekerjaan utama warga saat itu, sebagai petani. Dulu, mereka punya lahan untuk bertani. Sekarang, hampir separuh lahan pertanian di desa ini sudah berubah jadi perumahan, dijual.
Seperti desa-desa lain di Jawa, Ujung Harapan masih menjunjung tinggi budaya gotong royong. Kita bisa melihatnya saat ada tetangga yang mengadakan acara pernikahan. Warga saling membantu. Hal ini juga dilihat oleh peneliti dari Departemen Agama pada tahun 1999. Mereka bilang, kekeluargaan dan gotong royong di Ujungharapan masih kuat, tidak seperti di Jakarta yang warganya lebih individualis.
Masyarakat Ujung Harapan, cukup religius. Di setiap sudut kampung, kita bisa menemukan musala sebagai tempat ibadah. Uniknya, warga lebih hafal nama musala daripada nomor RT atau RW. Ini lantaran KH. Noer Ali, salah satu tokoh yang ikut membangun desa ini, menjadikan musala sebagai pusat kegiatan warga. Bahkan, ada organisasi khusus yang mengurus semua musala di Ujung Harapan.
Ada sekitar 31 musala di wilayah ini. Semuanya berada di bawah Dewan Masjid Attaqwa (DMA). Masjid Attaqwa adalah satu-satunya masjid dipakai untuk salat Jumat. Dulu, ada dua masjid, yakni Masjid Attaqwa dan Masjid An Nur. Tapi, setelah musyawarah, disepakati Masjid Attaqwa yang jadi tempat salat Jumat. Akhirnya, namanya menjadi Masjid Jami Attaqwa, sementara Masjid An Nur menjadi Masjid Ghairu Jami An Nur. Ada juga Masjid Ghairu Jami Albaqiyatussalihat di dalam Pondok Pesantren Attaqwa Putri.
Masjid dan musala adalah pusat kehidupan di Ujung Harapan. Setiap ada rumah baru dibangun, biasanya diikuti dengan pendirian musala. Musala ini seringkali menjadi tempat pengajian, baik untuk bapak-bapak maupun ibu-ibu.
Pengajian bapak-bapak biasanya tidak terikat organisasi. Tapi, pengajian ibu-ibu terstruktur dalam Majelis Taklim Attaqwa Pusat (MTAP) di bawah Yayasan Attaqwa. Jumlah anggota MTAP disesuaikan dengan jumlah musala. Selain itu, beberapa musala juga punya sekolah Islam di bawah Perguruan Attaqwa.
Dulu, Ujung Harapan adalah tempat transit pedagang dari Muara atau Wates yang mau ke Bekasi atau Jakarta. Wilayah ini juga menjadi tempat tinggal pedagang sejak zaman Belanda. Sekarang, Ujung Harapan menjadi lokasi pembangunan perumahan besar-besaran. Banyak pekerja Jakarta yang tinggal di sini.
Bahkan, warga asli pun banyak yang membangun rumah tambahan. Dengan memanfaatkan sisa lahan pertanian, pengembang mengubah desa ini menjadi daerah perumahan. Akibatnya, masyarakat Ujung Harapan semakin beragam hingga saat ini.
Dede Rosyadi
#Jumalang #Infobekasi #Ujungharapan #Bekasi
sumber :Yayasan Attaqwa






























