Sejarah dan Transformasi Handy Talky: Dari Medan Perang ke Pos Ronda, hingga Komunikasi Bencana

Infobekasi.co.id – Suara khas “krak… krak… copy… over”, dari perangkat Handy Talky (HT) pernah menjadi irama malam di pos ronda. Alat komunikasi genggam ini tak hanya identik dengan dunia militer atau aparat keamanan, tetapi juga punya peran penting dalam menjaga keamanan lingkungan atau siskamling di banyak kampung di Indonesia.

Awal Mula Handy Talky

Handy Talky, yang juga dikenal sebagai walkie-talkie, dari data yang dihimpun infobekasi, HT pertama kali dikembangkan pada era Perang Dunia II oleh Donald L. Hings dan insinyur Motorola. HT diciptakan untuk memudahkan komunikasi jarak dekat tanpa harus bergantung pada kabel telepon. Dengan sistem radio frekuensi (VHF/UHF), HT bisa langsung terhubung antar perangkat tanpa perantara.

Di Indonesia, HT mulai dikenal luas pada tahun 1970-1980-an, terutama di kalangan aparat keamanan, polisi, dan militer. Namun, seiring waktu, perangkat ini juga dipakai oleh masyarakat sipil, termasuk kelompok siskamling di kampung-kampung.

HT di Era Siskamling

Di masa ketika ponsel belum merata, terutama tahun 1980-an hingga awal 2000-an, HT menjadi senjata andalan warga ronda malam. Dengan satu kali tekan tombol, warga pos ronda bisa langsung menghubungi kelompok lain di sudut kampung.

Fungsinya sangat vital, yakni untuk koordinasi cepat jika ada pencurian atau gangguan keamanan. Mobilisasi warga untuk patroli malam. Jaringan komunikasi darurat saat listrik padam atau sambungan telepon rumah terputus.

Tak jarang, di beberapa daerah, RT/RW sampai menyediakan satu set HT khusus untuk petugas ronda. Bahkan di Bekasi dan kota-kota besar lain, HT menjadi bagian tak terpisahkan dari budaya siskamling era 90-an.

Perkembangan Teknologi HT

Seiring berkembangnya zaman, HT juga mengalami transformasi yakni:

Analog ke Digital :HT konvensional yang dulu hanya memakai frekuensi analog kini berkembang ke sistem digital (DMR), dengan suara lebih jernih dan jangkauan lebih luas.

Miniaturisasi: Dari ukuran besar dan berat, kini banyak HT yang lebih kecil, ringan, dan mudah dibawa.

Integrasi dengan Internet: Munculnya network radio atau HT berbasis IP (internet protocol) memungkinkan komunikasi lintas kota bahkan lintas negara dengan memanfaatkan jaringan seluler dan WiFi.

Komunitas Hobi Radio: Banyak komunitas radio komunikasi tetap menggunakan HT, tidak hanya untuk keamanan tetapi juga kegiatan sosial, bencana, hingga otomotif.

HT vs Smartphone di Era Kini

Meski kini ponsel pintar dengan aplikasi push-to-talk (seperti Zello atau WhatsApp PTT) bisa menggantikan fungsi HT, namun bagi sebagian warga dan komunitas siskamling, HT tetap dianggap lebih tangguh. Alasannya, tidak tergantung sinyal seluler. Baterai lebih awet. Bisa dipakai dalam kondisi darurat atau bencana alam.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) hingga kini juga masih menjadikan HT sebagai perangkat utama komunikasi lapangan, karena handal saat jaringan internet lumpuh.

Dari Pos Ronda ke Masa Depan

Kini, meskipun pos ronda semakin sepi dan budaya ronda manual mulai bergeser, jejak HT dalam dunia siskamling tetap dikenang. Bahkan di beberapa perumahan dan desa, HT masih dipakai untuk komunikasi cepat antarpetugas keamanan lingkungan.

HT mungkin tidak sepopuler dulu, tetapi posisinya sebagai alat komunikasi darurat tetap tak tergantikan. Dari masa perang, menjaga kampung, hingga bencana modern, suara “copy… over” HT masih menjadi simbol kebersamaan dalam menjaga keamanan.

Nah, gimana di wilayah kalian?

Editor: Dede Rosyadi

#HT #infobekasi #Handytalk #Teknologi #Siskamling #RindaKeliling #Kemananan #Bekasi

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini