InfoBekasi.co.id – Di tengah hiruk pikuk jalan raya Subang, Jawa Barat yang terus bergerak tanpa henti ada kisah-kisah sederhana yang menyimpan makna mendalam. Salah satunya adalah kisah Asep, seorang penjual kerupuk melarat yang setia menjajakan dagangannya di sudut pinggir jalan.
Kerupuk melarat, bagi sebagian orang mungkin hanya camilan biasa. Namun, bagi Asep, kerupuk ini adalah simbol perjuangan hidup. Usai berhenti dari pekerjaanya di sebuah perusahaan alat berat di Cileungsi.
“Dulu, kerupuk ini disebut melarat karena harganya murah dan jadi makanan sehari-hari masyarakat kurang mampu,” ujar Asep sambil menata kerupuk warna-warni di gerobaknya, Jumat (3/10/25).
Pria berusia 60 tahun itu sudah berjualan kerupuk melarat selama lebih dari 20 tahun. Ia belajar berdagang dengan prinsip istiqomah dan sabar dan keyakinan.
“Dulu, saya malu berjualan kerupuk. Tapi, lama kelamaan saya sadar, ini adalah pekerjaan yang halal dan bisa terus menghidupi keluarga,” tutur kakek tiga cucu tersebut.
Setiap hari, Asep menjajakan kerupuknya. Ia tak pernah mengeluh meski kadang laku bahkan sepi. Bahkan Asep kudu sabar lantaran bukan hanya Dia saja yang berdagang krupuk melarat di sepanjang jalan Bungur, Subang.
“Rezeki sudah ada yang mengatur. Yang penting, kita harus jujur dan kerja keras,” ucapnya.
Asep selalu menyapa pelanggannya dengan ramah. Bahkan, mempersilahkan pembeli untuk istirahat digubuk jualannya sembari ngopi, dan berkelakar mengobrol tentang banyak hal.
“Pembeli kadang bukan hanya wilayah sini saja. Pengendara yang melintas juga suka ada yang mampir beli, sembari istirahat sejenak sambil numpang ngopi,” ujar Asep.
Kerupuk melarat yang paling banyak dicari, varian kerupuk yang dibumbui sangrai kelapa. Butuh proses seharian untuk membuat racikan bumbu tersebut. Ia meracik bumbu bikinan sendiri yang khas rasanya.
“Yang banyak diincer itu kerupuk ada bumbunya. Kadang saya kehabisan stok bumbu. Selain proses bikinnya lama juga bahan-bahan bumbunya lumayan cukup mahal. Musti ada kelapa yang diparut, minyak. Setelah itu disangrai seharian, kerupuk dimasukin open kita taburin bumbunya. Kudu sabar bikinnya juga,” beber Asep.
Bagi Dia, berjualan kerupuk bukan hanya sekadar mencari nafkah. Lebih dari itu, Ia ingin melestarikan makanan tradisional meski zaman terus berubah, dan banyaknya jajananĀ modern. Namun, Asep tetap istiqomah berjualan kerupuk melarat.
“Saya berharap, kerupuk melarat ini tetap digemari masyarakat secara luas. Karena di balik rasanya yang sederhana, ada nilai-nilai luhur yang patut kita jaga,” harapnya.
Kisah Asep adalah cerminan dari semangat pantang menyerah dan kesederhanaan hidup. Di tengah gempuran modernisasi, Ia tetap setia pada tradisi ‘warisan’ jajanan jadul. Semoga kisah ini bisa menginspirasi kita semua untuk selalu bersyukur dan berbagi dengan sesama.
Penulis: Dede Rosyadi
#infobekasi #bekasi #inspirasi #UMKM #kerupukmelarat #JajananKampung #Kerupuk






























