infobekasi.co.id – Di sudut benua Afrika, tepatnya di N’Djamena, kota yang hangat, berdebu, dan dipenuhi hiruk pikuk kehidupan khas Chad, lahir seorang anak laki-laki bertubuh tegap yang kelak dikenal sebagai salah satu striker paling menakutkan di Asia Tenggara, Ezechiel Aliadjim N’Douassel.
Namun jauh sebelum teriakan “King Eze!” menggema di stadion-stadion Indonesia, hidupnya adalah cerita tentang tekad, perjalanan panjang, dan keberanian untuk menembus batas.
Mimpi Tumbuh di Lapangan Berpasir
Bagi sebagian besar anak Chad, sepak bola bukan sekadar permainan. Ia adalah pelarian, hiburan, bahkan harapan. Di lapangan berpasir dekat rumahnya, Ezechiel kecil mulai mengenal dunia yang kelak membawanya jauh dari tanah kelahiran. Ia bukan tipe anak yang banyak bicara, tetapi bola selalu membuatnya tersenyum.
Di usia remaja, tinggi badannya melesat, membuatnya tampak mencolok di antara teman-temannya. Pelatih lokal melihat ada sesuatu yang berbeda. Kekuatan, determinasi, dan insting mencetak gol yang lahir secara alami. Dari situlah kariernya di Tourbillon FC dimulai.
Menembus Batas Afrika Utara
Perjalanan keluar dari Chad bukan perkara mudah. Banyak pemain muda yang terhenti sebelum sempat bermimpi terlalu jauh. Tetapi Ezechiel memutuskan menerima tantangan ketika klub-klub Afrika Utara memanggil namanya.
Ia merantau ke Aljazair, bergabung dengan MC Oran dan USM Blida. Hidup di negara baru, bahasa baru, budaya baru, semua itu menguji mentalnya. Namun ia bertahan. Setiap gol yang dicetaknya adalah bukti bahwa seorang anak dari N’Djamena bisa berdiri tegak di panggung yang lebih besar.
Petualangannya berlanjut ke Tunisia bersama Club Africain, kemudian Turki dan Israel. Ia berpindah-pindah klub, berpindah negara, berpindah bahasa. Tetapi satu hal tak pernah berpindah: mimpinya.
Indonesia: Tempat Baru, Cinta Baru
Saat namanya diumumkan sebagai pemain baru Persib Bandung pada 2017, tak banyak yang menyangka betapa besar pengaruh yang akan ia berikan. Namun begitu ia pertama kali menginjakkan kaki di Stadion Si Jalak Harupat, semuanya berubah. Bobotoh jatuh cinta pada gaya bermainnya: kuat, ngotot, dan tak mengenal kompromi. Ezechiel pun jatuh cinta pada atmosfer Bandung yang hangat.
Musim 2018 menjadi puncaknya. Dengan kepala tegak dan postur menjulang, ia menghancurkan barisan pertahanan lawan, mencetak 17 gol dari 22 pertandingan. Ia bukan sekadar striker; ia adalah simbol agresivitas dan harapan.
Namun di balik gol-gol itu, ada cerita tentang tekanan, adaptasi, bahkan kerinduan terhadap keluarga yang jauh di Chad. Ia sering menyimpan semuanya sendiri, membawanya ke lapangan sebagai bahan bakar untuk bermain lebih keras.
Naik Turun Emosi Seorang Petarung
Ezechiel bukan pemain yang “dingin”. Emosinya nyata, terlihat dalam duel, selebrasi, bahkan ketika ia merasa tidak puas. Kadang ia dikritik karena hal itu. Namun bagi yang benar-benar mengenalnya, itulah warna hidupnya. Ia adalah petarung. Seorang pemain yang tidak pernah setengah hati. Jika bertarung, ia akan habis-habisan.
Melanjutkan Perjalanan di Tanah Baru
Setelah Persib, Ezechiel melanjutkan karier di Bhayangkara FC, kemudian FC Bekasi City. Meski kini usianya tak lagi muda, pengalamannya membuatnya tetap jadi panutan di ruang ganti, seseorang yang selalu mengingatkan bahwa perjalanan panjang tak pernah mematahkan semangat, justru menguatkan.
Warisan King Eze
Di manapun ia bermain, satu hal selalu tersisa: cerita. Cerita tentang seorang anak dari N’Djamena yang mengejar bola hingga membawanya jauh dari rumah. Cerita tentang striker bertubuh kekar yang menggetarkan nyali bek-bek Indonesia. Cerita tentang King Eze, sosok yang tak hanya bermain dengan kaki, tetapi juga dengan hati.
Editor :Dede Rosyadi
*Data Dikutip dari berbagai sumber
#infobekasi #Ezechiel Aliadjim N’Douassel








































