Riuh Aroma Kuliner Jajanan Malam di Ahmad Yani, Ketika Gerobak Jadi Titik Temu Warga

Infobekasi.co.id – Jalan Ahmad Yani, Kota Bekasi, pad amalam hari berubah menjadi ruang berjumpa warga. Deretan gerobak makanan berjejer rapi, lampu-lampu temaram menyala, dan aroma masakan mengepul di udara. Kuliner malam di kawasan ini bukan sekadar tempat makan, melainkan potret kehidupan kota terus bergerak hingga larut.

Jumat (26/12/2025) malam, suasana di sepanjang trotoar Ahmad Yani tampak ramai. Pengunjung datang silih berganti. Mulai dari pekerja kantoran, keluarga, hingga anak muda yang ingin menghabiskan waktu malam. Beberapa memilih duduk santai di bangku sederhana, sementara yang lain pesan makanan untuk dibawa pulang.

“Kalau malam ke sini suasananya beda. Ramai tapi nyaman, banyak pilihan makanan, dan harganya masih ramah di kantong, ” ujar Rina (27), salah satu pengunjung dari Bekasi Timur, sambil menunggu pesanannya selesai disiapkan.

Menu yang ditawarkan pun beragam. Ada gorengan, nasi goreng, sate, hingga minuman hangat menjadi favorit pengunjung. Aktivitas pedagang sibuk melayani pembeli menciptakan irama tersendiri di tengah hiruk-pikuk kota.

Salah seorang pedagang, Ujang (45), mengaku kawasan Ahmad Yani sudah menjadi tempat ‘penglaris’ bagi pedagang kaki lima sejak lama. Menurutnya, malam hari adalah waktu paling ramai didatangi pembeli.

“Kalau sudah habis magrib sampai jam sepuluh malam itu ramai terus. Banyak yang pulang kerja mampir makan,” ucap Ujang, yang telah berjualan nasi goreng di lokasi tersebut lebih dari lima tahun.

Ia menambahkan, keberadaan kuliner malam di Ahmad Yani juga menjadi sumber penghidupan bagi banyak pedagang kecil. Meski harus bersaing dan bergantung pada cuaca, semangat mereka tetap terjaga karena pelanggan setia terus berdatangan.

Di antara lampu jalan, bangunan tua di sekitarnya, dan kabel listrik yang melintang, kuliner malam di jalan Ahmad Yani, menghadirkan wajah lain Kota Bekasi, yang sederhana, hidup, dan penuh cerita. Di sinilah kota tidak hanya dilihat sebagai deretan beton, tetapi juga sebagai ruang sosial tempat warga saling bertemu, berbagi, dan menikmati malam bersama.

(Windafatin Himamah)

Editor : Deros

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini