Infobekasi.co.id – Penjualan jagung dan arang di Pasar Baru Bekasi, tepatnya di Jalan Insinyur H. Juanda, Duren Jaya, Kecamatan Bekasi Timur, meningkat signifikan menjelang malam pergantian tahun baru 2026. Peningkatan ini disebabkan oleh tradisi bakar-bakar yang dilakukan warga bersama keluarga dan kerabat.
Pantauan di lokasi, aktivitas jual beli di Pasar Baru Bekasi lebih padat dibanding hari biasa. Pedagang berharap momentum tahun baru dapat meningkatkan pendapatan, sementara warga mempersiapkan kebutuhan untuk merayakan malam pergantian tahun.
Pedagang sayur yang juga berjualan jagung Dartono (55) mengatakan, permintaan jagung bakar mulai terasa sejak sepekan terakhir. Ia harus menambah stok jagung lantaran banyak pembeli yang mencari.
“Biasanya cuma dua karung per hari, sekarang sampai lima karung. Pembeli kebanyakan anak muda yang mau bakar-bakar di malam tahun baru,” ungkap Dartono saat ditemui di lokasi, Selasa (30/12/25).
Lebih jauh Dartono memaparkan, menjual jagung manis yang dipasok dari Cianjur dan Pasar Cibitung. Harganya naik dari Rp8.000 menjadi Rp10.000 per kilogram, dan diperkirakan bakal melonjak lagi saat malam tahun baru nanti.
Pedagang jagung lainnya, Sari (35), mengaku, ikut menjual jagung karena banyaknya peminat. Ia menyiapkan empat karung dan semuanya habis terjual dalam sehari. “Awalnya gak jual, tapi karena banyak yang cari, akhirnya ikut. Jagung manis yang paling diminati,” katanya.
Seorang pembeli bernama Bayu (38) warga Margahayu membeli jagung tidak hanya untuk konsumsi pribadi, tetapi juga dijual kembali sebagai jagung bakar di angkringan depan rumah. “Tahun ini sekalian jualan, lumayan satu jagung bakar dijual Rp5.000,” katanya.
Selain jagung, peminatan arang juga meningkat. Elli (57), seorang pedagang arang yang hanya berjualan menjelang tahun baru, mengatakan, penjualan mulai ramai sejak minggu kemarin dan kini cepat habis. Harganya ditetapkan Rp10.000 per kilogram.
Pedagang arang lain, Abdul (46), menyiapkan empat hingga lima karung per hari. Menurutnya, arang kayu lebih laku, karena hanya digunakan untuk bakar-bakar malam tahun baru. “Yang batok biasanya buat tukang sate, saya gak jual,” jelas Abdul.
Nela (45) warga Duren Jaya, malahan mengatakan, memilih membeli arang lebih awal. “Takut gak kebagian kalo belinya mepet,” ucapnya.
(Sabila Nur Alya)
Editor: Deros





























