Mengingat Musim Hujan, Rebusan Singkong dan Pisang dari Ladang Bapak Kini Jadi ‘Barang Mahal’

infobekasi.co.id –  Kudapan seperti singkong, pisang, ubi, dan jenis umbi-umbian lainnya menjadi pilihan pas untuk menemani secangkir kopi atau teh hangat saat musim hujan tiba. Apalagi jika dinikmati di ruang tamu atau bale depan rumah yang memiliki pelataran luas, dengan suara gemericik hujan sebagai irama alam yang menyertai.

Hal itu terasa begitu mendamaikan bagi Sukri, pria asal Indramayu yang bertandang ke rumah kawannya di Bekasi pada Minggu (11/1). Saat disuguhi rebusan singkong dan teh manis hangat, ia teringat masa mudanya di kampung.

“Jadi inget kalau musim hujan gini, makan rebusan singkong sembari minum yang anget-anget di kampung ya. Hidup terasa damai banget. Enggak ada yang dipikirin,” ucap Sukri.

Suasana makan bersama di perkampungan zaman dulu tak terlupakan baginya. Saat hujan mengguyur atap rumah bambu dan genting, seluruh keluarga berkumpul di sekitar lantai kayu yang diselimuti tikar anyaman. Rebusan singkong dan umbi-umbian masih hangat dari kukusan, disajikan di nampan anyaman rotan bersama cocolan gula merah larut atau sambal bawang yang pedas hangat.

Anak-anak berlari-lari kecil di sekitar halaman main hujan-hujanan. Sementara orang tua berbincang santai tentang aktivitas ladang dan kabar tetangga. Asap dari tungku kayu bakar masih menyebar lembut di udara, bercampur dengan aroma khas rebusan umbi dan bau tanah yang baru saja disiram hujan.

Ceritanya, sekitar tahun 1998,ketika Sukri masih remaja, Ia kerap menikmati rebusan singkong dan umbi-umbian yang dibawa ayahnya dari ladang. Pada musim penghujan, tanaman tersebut menjadi pilihan utama dan kemudian dikukus di dalam langseng dapur milik ibunya.

“Paling nikmat dari segala makanan pokoknya dah. Cuaca hujan kalau makan rebusan beginian. Apalagi makannya masih suasana perkampungan,” ujarnya.

Sayangnya, kini kudapan rebusan singkong, pisang, dan umbi-umbian tersebut jadi seperti ‘barang mahal’. Masyarakat harus membeli di pasar atau menunggu kedatangan tukang dagang yang tidak pasti harinya. Bahkan jika ada, rasanya tidak selezat yang dibuat di dapur rumah.

“Soal rasa ya lebih mantap direbus di dapur pakai kayu bakar. Rasanya pulen, dan bau khas rebusannya itu yang bikin selera ngemil,” timpal Ayi, kawan Sukri yang duduk bareng menikmati sepiring rebusan singkong di atas meja bunda yang terbuat dari pohon sengon.

#Hujan #infobekasi #Kudapan #Singkong

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini