Mengenal Bencana Hidrometeorologi: Definisi, Jenis, hingga Strategi Mitigasi

Infobekasi.co.id – Fenomena bencana hidrometeorologi kembali terasa dampaknya di berbagai wilayah Indonesia, salah satunya di Bekasi yang diguyur hujan seharian pada Kamis (22/1). Curah hujan yang tinggi mengakibatkan beberapa wilayah tergenang banjir, menghambat aktivitas masyarakat dan mengingatkan masyarakat tentang urgensi memahami serta mengantisipasi ancaman bencana yang seringkali mendominasi kejadian nasional ini.

Dari data yang dihimpun infobekasi, bencana hidrometeorologi merupakan bencana alam yang terjadi akibat variasi atau gangguan pada sistem atmosfer dan hidrologi, seperti curah hujan ekstrem, perubahan temperatur, kelembapan, dan angin. Jenis bencana ini mencakup banjir, kekeringan, badai, dan tanah longsor, dengan intensitas yang terus meningkat akibat perubahan iklim global. Di Indonesia, bencana hidrometeorologi seringkali mendominasi kejadian bencana nasional.

BMKG dan Ahli Meteorologi mendefinisikannya sebagai bencana yang dipicu oleh parameter meteorologi (angin, curah hujan, kelembapan, suhu) dan hidrologi (siklus air), menyebabkan dampak merusak seperti hilangnya nyawa, kerusakan properti, dan gangguan aktivitas ekonomi.

Pakar Meteorologi, BRIN/IPCC, Edvin Aldrian menyoroti hubungan antara peningkatan frekuensi bencana hidrometeorologi di Indonesia dengan masuknya massa air hangat ke perairan negara ini. Fenomena ini membentuk lebih banyak awan dan meningkatkan intensitas hujan, yang pada gilirannya memicu terjadinya banjir dan tanah longsor.

Studi ilmiah yang terbit di platform seperti ResearchGate dan hasil penelitian Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menunjukkan, bahwa jenis bencana seperti siklon tropis makin sering mendekati wilayah ekuator dan menimbulkan dampak yang lebih kuat, seperti terjadi pada Siklon Senyar. Data juga mencatat bahwa bencana hidrometeorologi mendominasi hingga 96,8% dari total kejadian bencana di Indonesia.

Penyebab utama bencana hidrometeorologi adalah dinamika alami sistem atmosfer dan hidrologi, yang diperparah oleh perubahan iklim global yang tidak menentu.

Secara umum, bencana ini dibagi menjadi dua kategori. Pertama, bencana basah disebabkan curah hujan tinggi. Dampaknya terjadi banjir, tanah longsor, badai, dan puting beliung (angin puyuh). Kedua, ​bencana kering, disebabkan kurangnya curah hujan. Dampaknya terjadi kekeringan ekstrem.

Selain itu, muncul fenomena baru yang menjadi perhatian para ahli, yaitu siklon tropis yang tumbuh lebih dekat ke wilayah ekuator dan bertahan dengan kekuatan yang lebih besar akibat suhu permukaan laut yang semakin hangat.

Para ahli menekankan bahwa penanganan bencana hidrometeorologi membutuhkan upaya komprehensif melalui beberapa langkah utama, yakni:

Peningkatan Kewaspadaan: Masyarakat perlu memahami informasi prakiraan cuaca, mengenali tanda awal bencana (seperti curah hujan ekstrem atau kenaikan permukaan air), serta memiliki rencana evakuasi yang jelas.

Mitigasi Fisik: Langkah-langkah seperti menjaga kebersihan saluran drainase air, melakukan reboisasi di kawasan lereng, membangun infrastruktur dan bangunan yang tahan bencana, serta penerapan teknologi modifikasi cuaca.

Adaptasi Iklim: Mengurangi emisi gas rumah kaca, memperluas kawasan penghijauan, serta menghindari pembangunan pemukiman dan fasilitas penting di wilayah rawan bencana.

Sinergi Kebijakan: Kolaborasi erat antara pemerintah pusat dan daerah, kalangan akademisi, serta masyarakat. Para ahli juga menyarankan untuk memberikan kewenangan lebih kepada pemerintah daerah agar dapat melakukan penanganan bencana dengan lebih cepat dan tepat sasaran.

(Deros)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini