Infobekasi.co.id – Ada yang unik dari sekolah non-formal satu ini. Mereka menerapkan pendekatan khusus agar para siswanya tampil percaya diri saat berbicara menggunakan bahasa asing.
Metode ini diterapkan oleh Sekolah Bahasa yang berlokasi di Jalan Pondok Hijau Permai Blok A1 No. 4-6, Pengasinan, Kecamatan Rawalumbu, Kota Bekasi. Lembaga pendidikan non-formal tersebut membuka berbagai kelas bahasa asing, mulai dari bahasa Inggris, Jerman, Jepang, Korea, hingga Mandarin.
CEO Sekolah Bahasa, Audy Laksmana, mengatakan bahwa sekolah ini terbuka untuk umum, mulai dari anak usia 7 tahun hingga orang dewasa. Tersedia pula kelas persiapan ujian standar bahasa Inggris seperti TOEFL dan IELTS.
“Kami mengharapkan para siswa dapat percaya diri untuk berbicara bahasa Inggris maupun melakukan public speaking,” ujar Audy.
Ia menilai kemampuan siswa-siswi di Tanah Air sebenarnya tidak kalah unggul. Namun, diperlukan formulasi yang tepat agar mereka mudah beradaptasi.
“Selama ini yang kami pelajari, murid itu kalau belajar bahasa Inggris secara pasif seperti membaca dan mendengar, mereka bisa. Tapi saat diminta berbicara, mereka tidak percaya diri karena takut disalahkan, terutama terkait grammar,” jelasnya.
Melalui metode yang atraktif, pihak sekolah menyiapkan tutor lokal berpengalaman serta mendatangkan pendamping penutur asing (native speaker).
“Selain tutor lokal, setiap dua minggu sekali kami mendatangkan native speaker agar siswa dapat melatih percakapan langsung dan terbiasa berbicara dengan warga asing,” tambahnya.
Cabang Bekasi merupakan cabang ketiga Sekolah Bahasa setelah sebelumnya hadir di Cirebon, Jawa Barat, dan Blora, Jawa Tengah. Dengan harga yang terjangkau, Sekolah Bahasa diharapkan dapat diterima oleh masyarakat Bekasi, khususnya kategori ekonomi menengah.
“Mulai Senin depan sampai Sabtu, 14 Februari, kami menyediakan program free trial (uji coba gratis),” kata Audy.
Sementara itu, Kepala Bidang PAUD Dikmas Dinas Pendidikan Kota Bekasi, Nelwan Nelly Sampe, mendukung keberadaan sekolah non-formal ini guna membantu siswa mengembangkan keterampilan berbahasa asing.
“Bahasa sangat penting, terutama di era globalisasi. Tidak hanya bahasa Indonesia, kita juga butuh penguasaan bahasa Inggris dan bahasa lainnya,” ujar Nelwan.
Meski demikian, ia mengimbau agar pelaku industri pendidikan tetap mematuhi aturan yang berlaku dengan melengkapi perizinan dan dokumen legalitas.
“Kami mendorong dan mengapresiasi hal ini, namun mereka harus tetap stabil secara operasional dan mengantongi izin resmi,” pungkasnya.
(Fahmi)








































