Infobekasi.co.id – Terik matahari di Jalan Ahmad Yani, Kota Bekasi, Kamis (12/2), terasa lebih membakar bagi Fahri. Pria berusia 45 tahun itu tidak sedang menunggu penumpang di balik kemudi angkot 02 miliknya. Ia berdiri di tengah jalan bersama sekitar 300 rekan se-profesinya, menyuarakan keresahan yang sudah sampai ke ubun-ubun.
“Dapat uang dibawa ke rumah Rp30 ribu saja sudah syukur. Dulu, bawa Rp100 ribu itu biasa. Sekarang, susah sekali,” keluh Fahri dengan suara parau di tengah riuhnya massa, Kamis (12/2).
Bagi Fahri dan ratusan sopir angkot lainnya, kehadiran Trans Beken bukan sekadar pilihan transportasi baru bagi warga, melainkan ancaman nyata bagi kepulauan dapur mereka. Aksi demonstrasi kedua ini menjadi bukti bahwa belum ada titik temu antara “aspal jalanan” dengan kebijakan Pemerintah Kota Bekasi.
Kekhawatiran massa sebenarnya sederhana, yakni keberlangsungan hidup. Mereka menilai peluncuran Trans Beken dilakukan tanpa sosialisasi yang matang dan berisiko mematikan trayek angkot yang sudah puluhan tahun eksis. Di tengah gempuran transportasi daring dan moda transportasi massal lainnya, posisi angkot kian tersudut.
Data di lapangan menunjukkan penurunan omzet drastis, hingga menyentuh angka 80 persen. Angka ini bukan sekadar statistik di atas kertas, melainkan nyata terasa saat para sopir harus pulang dengan kantong yang hampir kosong.
“Tolong dihentikan yang namanya Trans Beken. Enggak ada itu saja narik sudah susah, apalagi ditambah ada Trans Beken,” ucap salah satu demonstran dengan nada getir.
Hingga siang menjelang sore, Jalan Ahmad Yani masih lumpuh oleh barisan mobil berwarna merah yang ‘mogok’ beroperasi sebagai bentuk protes. Para sopir menegaskan, bahwa mereka tidak anti-kemajuan, namun mereka menuntut keadilan dan solusi nyata agar tetap bisa bekerja di tengah modernisasi transportasi kota.
Tanpa adanya kebijakan yang menyeimbangkan antara transportasi massal modern dan angkutan konvensional, para sopir khawatir “gejolak” ini akan terus berulang dengan skala yang lebih besar.
Kini, bola panas ada di tangan Pemerintah Kota Bekasi. Di rumah-rumah kecil di sudut kota, istri dan anak-anak para sopir ini sedang menunggu. Bukan menunggu cerita tentang bus baru yang mewah, melainkan menunggu kepastian apakah ayahnya bisa membawa pulang lebih dari sekadar uang Rp30 ribu esok hari.
Reporter : Fahmi
Editor : Dede Rosyadi





























