Lupa Niat Puasa, Ini Jawaban Empat Mazhab Fikih

infobekasi.co.id – Dalam ibadah puasa Ramadan, niat termasuk salah satu rukun menentukan sah atau tidaknya puasa. Para ulama dari empat mazhab fikih sepakat, bahwa niat itu wajib. Namun, berbeda pendapat terkait waktu pelaksanaan niat dan hukum bagi orang yang lupa berniat pada malam hari.

Berikut penjelasan menurut masing-masing mazhab berdasarkan literatur fikih klasik:

1. Mazhab Syafi’i

Mazhab Syafi’i berpendapat, niat puasa wajib Ramadan harus dilakukan setiap malam sebelum terbit fajar. Jika seseorang lupa berniat hingga masuk waktu subuh, maka puasanya tidak sah dan wajib diganti (qadha) setelah Ramadan. Pendapat ini dijelaskan dalam kitab fikih seperti Al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab karya Imam Nawawi.

Namun, jika seseorang makan sahur dengan kesadaran ingin berpuasa, hal itu dianggap sebagai niat, karena niat pada dasarnya terletak di hati.

2. Mazhab Maliki

Mazhab Maliki memiliki pendapat yang lebih longgar, yaitu boleh berniat puasa Ramadan untuk satu bulan penuh pada malam pertama Ramadan. Artinya, jika seseorang lupa berniat pada malam tertentu tetapi sebelumnya sudah berniat puasa sebulan penuh, maka puasanya tetap sah. Penjelasan ini terdapat dalam kitab Al-Mudawwanah al-Kubra. Namun, jika sejak awal tidak ada niat sama sekali, maka puasanya tetap tidak sah.

3. Mazhab Hambali

Pendapat Mazhab Hambali hampir sama dengan Mazhab Syafi’i, yaitu niat harus dilakukan setiap malam sebelum terbit fajar. Jika lupa berniat hingga waktu subuh tiba, puasa tidak sah. Pendapat ini dapat ditemukan dalam kitab Al-Mughni karya Ibnu Qudamah.

4. Mazhab Hanafi

Mazhab Hanafi memberikan keringanan paling besar. Menurut mazhab ini, niat puasa Ramadan boleh dilakukan setelah terbit fajar, selama belum melakukan hal yang membatalkan puasa

Batas waktu pelaksanaan niat adalah sebelum zawal (sekitar menjelang waktu dzuhur). Jadi, jika seseorang lupa berniat pada malam hari tetapi baru ingat pada pagi hari dan belum makan atau minum, maka puasanya tetap sah. Pendapat ini dijelaskan dalam kitab Bada’i as-Sana’i.

Editor: Dede Rosyadi

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini