Pesan Terakhir Sebelum Kepergian, Kisah Vica Korban Kecelakaan Kereta KRL dan Argo Bromo

infobekasi.co.id – Dari 15 orang yang dinyatakan meninggal dunia dalam peristiwa tabrakan antar kereta di Stasiun Bekasi Timur, salah satunya adalah Vica Acnia Pratiwi, wanita berusia 23 tahun yang berdomisili di Kompleks Telaga Murni, Kecamatan Cikarang Barat, Kabupaten Bekasi. Kepergiannya yang mendadak meninggalkan duka mendalam bagi seluruh keluarga.

Menurut adiknya, Muhammad Ari Kurniawan (21), kakaknya itu bekerja di Jakarta dan telah menekuni pekerjaannya selama enam bulan terakhir. Ia biasa berangkat dan pulang kerja menggunakan kereta, dan biasanya sudah sampai di rumah paling lambat pukul 19.00 WIB. Namun semuanya berubah pada Senin malam, 27 April 2026.

“Setiap hari dia bekerja ke Jakarta, sudah sekitar enam bulan lamanya,” ujar Ari.

Sebelum pulang, Vica sempat mengirim pesan lewat aplikasi pesan singkat, memberitahu bahwa ia akan pulang agak terlambat karena berencana makan malam bersama rekan kerjanya. Kemudian pukul 20.30 WIB, ia kembali mengabarkan bahwa dirinya sudah tiba di Stasiun Bekasi Timur.

“Dia sempat bilang, pulangnya agak telat ya, mau makan dulu sama teman kerja. Terus pukul setengah sembilan malam, Dia ngabarin lagi kalau sudah sampai di Stasiun Bekasi Timur,” kenang Ari.

Awalnya Ari tidak merasakan ada hal yang tidak beres, namun suasana di tempat kerjanya tiba-tiba berubah sepi. Pasalnya, rekan kerjanya memberitahu bahwa ada berita kecelakaan kereta yang terjadi di Stasiun Bekasi Timur tepat pukul 22.00 WIB. Mendengar kabar itu, pikiran Ari langsung tertuju pada kakaknya yang baru saja mengabarkan keberadaannya di lokasi tersebut.

Ia segera mencoba menghubungi nomor ponsel Vica, namun panggilan tidak diangkat dan pesan yang dikirim tidak dibalas. Rasa khawatir pun semakin memuncak.

“Saya langsung telepon dan kirim pesan, tapi tidak ada jawaban sama sekali. Saya jadi makin cemas, lalu menghubungi keluarga di rumah. Ternyata mereka juga sudah menangis karena kakak saya belum juga pulang,”ujarnya.

Ari pun segera meminta izin pulang dari tempat kerja dan langsung menuju lokasi kejadian bersama rekan kerjanya. Sesampainya di sana, suasana sangat berbeda dari biasanya. Tidak terlihat orang-orang pulang berjalan santai, yang ada hanyalah suara sirine ambulans, petugas dan relawan bergerak cepat, serta pemandangan menyayat hati di mana beberapa kali petugas mengeluarkan kantung jenazah dari gerbong khusus penumpang wanita.

Ia sempat bertanya kepada petugas mengenai keberadaan kakaknya, namun saat itu belum ada informasi yang jelas. Keesokan harinya, tepat pada Selasa pagi, masih ada tiga orang penumpang belum berhasil dievakuasi dari dalam rangkaian kereta.

Beberapa jam kemudian, ketiga jenazah itu berhasil dikeluarkan. Dari ciri-ciri fisiknya, Ari yakin salah satunya adalah kakaknya. Keyakinan itu semakin kuat setelah Ia menemukan barang-barang milik Vica, yaitu dompet, tas dan perangkat komputer jinjing, meskipun ponsel miliknya tidak ditemukan.

Dalam keadaan cemas dan berduka, Ari mendapat arahan dari petugas untuk menuju Rumah Sakit Polri Kramat Jati, Jakarta Timur. Ia pun segera berangkat ke lokasi tersebut bersama keluarga lainnya. Di sanalah akhirnya dipastikan bahwa salah satu korban meninggal adalah Vica.

“Sekitar pukul 16.30 WIB kami mendapatkan kepastian identitas korban. Kemudian pukul 19.00 WIB jenazah dibawa pulang ke rumah duka di Bekasi, dan satu jam kemudian langsung dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum Wanajaya, Cibitung,” jelas Ari.

Kehilangan sosok Vica sangat terasa bagi keluarga, apalagi dalam dua bulan terakhir ini ia terlihat semakin dekat dan sering meluangkan waktu untuk berkumpul bersama.

“Selama dua bulan terakhir dia sering banget ngajak keluarga makan bareng, padahal sebelumnya nggak sesering ini. Rasanya sangat berat kehilangan dia,” tuturnya dengan nada haru.

Dari kekasih Vica yang tinggal di Kalimantan, Ari juga mendengar cerita terakhir sebelum kecelakaan terjadi. Pasangan itu sempat berkirim pesan, namun komunikasi terputus tepat pukul 20.59 WIB. Sebelumnya, Vica sempat memberitahu bahwa ia sedang berada di dalam gerbong khusus penumpang wanita, karena ia memang selalu memilih gerbong tersebut saat naik kereta.

“Pas pukul 20.59 WIB komunikasi terputus, dan sejak itu tidak ada kabar lagi. Mungkin di waktu itulah kecelakaan terjadi,” ungkap Ari.

Dikenal sebagai sosok yang tangguh dan baik hati, Vica merupakan lulusan terbaik Program Studi Teknik Elektro Universitas Lampung angkatan 2020-2024. Ia berhasil meraih predikat Cum Laude dengan Indeks Prestasi Kumulatif mencapai 3,79. Sebelum meninggal, ia bekerja sebagai Tenaga Teknis Penjualan di salah satu perusahaan terkemuka di Jakarta.

(Fahmi)

Editor: Dede Rosyadi

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini