Skip to content

Labirin Bambu di Perairan Tarumajaya: Penanda Jalan dan Penghidupan Nelayan

infobekasi.co.id – Menyusuri perairan Tarumajaya, pandangan mata bakal disuguhi pemandangan yang khas. Barisan tiang bambu yang menancap kokoh hingga ke dasar laut. Berdiri berjejer memanjang, bambu‑bambu ini membelah permukaan air yang tenang, seolah membentuk pagar alami yang menjadi bagian tak terpisahkan dari wajah wilayah pesisir ini.

Bagi orang yang pertama kali datang, susunan bambu itu terlihat seperti labirin yang membingungkan. Namun, bagi mereka yang telah lama mencari nafkah di sini, barisan tiang itu adalah penanda jalan, batas wilayah, dan panduan yang tak pernah salah arah. Baik perahu nelayan tradisional maupun perahu wisata yang hilir mudik melintasi perairan ini, semuanya harus berhati‑hati menyelinap lewat celah‑celah di antara rimbunnya bambu tersebut.

Ramli (46), salah satu nelayan yang telah puluhan tahun melaut di perairan Tarumajaya, mengaku, melintasi jalur ini bukan perkara mudah. Dibutuhkan keahlian dan konsentrasi penuh, apalagi saat kondisi alam tidak bersahabat.

“Kalau air sedang pasang atau angin bertiup kencang, arusnya jadi kuat. Kalau tidak hati‑hati, lambung perahu bisa tergores atau tersangkut di akar atau batang bambunya,” tutur Ramli saat ditemui beberapa waktu lalu.

Meski terlihat sebagai tantangan, bagi para nelayan, bambu‑bambu itu justru menjadi sahabat setia. Ia menyebutnya sebagai kompas alami yang tak pernah rusak.

“Tapi buat kami, bambu‑bambu ini sudah seperti kompas alami. Di balik celah‑celah inilah jalan kami untuk menjemput rezeki di laut lepas. Selain itu, jalur yang dibentuk bambu ini juga menjadi rute utama mengantar wisatawan yang ingin menikmati keindahan alam dan pemandangan khas pesisir Tarumajaya,”sambungnya.

Lebih dari sekadar tanda pembatas, keberadaan bambu‑bambu ini telah menyatu dengan keseharian warga. Ia menjadi saksi bisu setiap kali perahu berangkat mencari hasil laut di pagi buta, dan menyambut mereka kembali saat senja tiba. Bagi Tarumajaya, labirin bambu ini bukan sekadar pemandangan, melainkan bagian dari identitas dan sumber penghidupan yang terus dijaga keberadaannya.

(Aris/dr)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *