Rumah Tua Kampung Pangkalan: Konon Sudah Seabad, Ada Sejak Zaman Belanda
Infobekasi.co.id – Di tengah padatnya bangunan rumah warga Kampung Pangkalan, Desa Sukamekar, Kecamatan Sukawangi, Kabupaten Bekasi, berdiri satu rumah kayu tua yang seolah tak tergoyahkan waktu. Pintu depan dan jendela gaya Betawi masih menampakkan wujud aslinya, menyimpan bisikan masa lalu yang jarang diketahui orang luar.
Saat tim Info Bekasi melangkah masuk, sisa-sisa kejayaan tempo dulu masih terasa. Lemari kaca tua, tempayan besar, rak piring dari kayu masih kokoh, hingga wadah tempat minum yang diduga milik tentara Belanda masih ada di sana. Inilah sisa peninggalan Siran, petani pemilik tanah luas, tokoh yang disegani, dan sosok yang konon berumur hingga 120 tahun.
Rohayati (61), cucu Siran, menceritakan kisah ini dari kenangan masa kecil dan tuturan ayahnya, bernam Mihad.
“Engkong Siran dulunya petani, tapi punya kelebihan ilmu kanuragan. Mungkin sebab itu Dia sangat dihormati, punya banyak kenalan, dan tanah yang dimilikinya pun sangat luas,” ujarnya.
Rohayati sendiri sempat bertemu Siran, namun saat itu usianya masih sangat kecil. Cerita sang kakek justru lebih banyak didapat dari ayahnya.
Tim redaksi mencoba menelisik perkiraan usia bangunan rumah tersebut, saat Engkong Siran meninggal, Rohayati baru berusia 6 tahun. Diperkirakan Siran wafat tahun 1971 di usia 120 tahun, kemungkinan Siran lahir sekitar tahun 1851.
Rumah ini diduga dibangun saat Siran berusia di usia 30 tahunan, artinya sudah berdiri sejak tahun 1881, lebih dari 100 tahun lalu.
Selain itu, rumah ini menyimpan jejak masa penjajahan Belanda. Konon, Siran pernah disiksa pasukan Belanda di dekat pohon belakang rumah ini. Namun karena kelebihan ilmu yang dimilikinya, Ia tak terluka sedikit pun.
Rahasia lain tersembunyi di tengah ruang tamu. Dulu ada lubang persembunyian atau bunker di sana.
“Sekitar tahun 1999 lubang itu sudah ditutup rata. Tapi saya hafal betul lokasinya, persis di sini,” kata Rohayati sambil menunjuk lantai yang kini tampak biasa saja.
Perlahan Meredupnya Kejayaan
Setelah Siran wafat, rumah ini dihuni anaknya, Mihad, yang akrab dipanggil Engkong Kebon. Dulu halaman rumah ini dikelilingi kebun jeruk, pepaya, cabai, serta ternak kerbau milik Siran.
Tanah dan sawah dikelola oleh para bujang yang dipercaya. Siran diketahui memiliki tujuh istri, namun hanya empat yang dikaruniai anak. Rohayati adalah keturunan dari salah satunya.
Kini rumah itu perlahan terlantar. Perabotan langka satu per satu hilang: meja bertatakan batu giok yang tembus cahaya, piring keramik Tiongkok, guci bermotif naga, patung harimau, hingga tongkat kuno. Sebagian dibawa kerabat, sebagian lagi entah ke mana.
Namun rumah tua itu tetap berdiri. Sebagai saksi bisu perjalanan waktu, jejak bangunan heritage, dan kisah kehidupan yang melintasi tiga abad di tanah Bekasi.
(Tim Redaksi/ded)


