Skip to content

Saat Kemarau Tiba, Peran Tempayan di Bekasi Sangat Berharga

infobekasi.co.id – Bagi masyarakat Bekasi tempo dulu, tempayan atau gentong bukan sekadar wadah tanah liat biasa. Benda ini telah lama menjadi bagian penting kehidupan warga sehari-hari, berfungsi sebagai alat penampung air yang perannya makin terasa krusial saat musim kemarau tiba.

Salah satu tradisi zaman dulu, menempatkan tempayan berisi air bersih lengkap dengan gayung batok kelapa di teras depan atau dekat pagar rumah. Kebiasaan ini menjadi simbol kedermawanan masyarakat Betawi‑Bekasi, di mana siapa saja, tetangga, pedagang keliling, hingga musafir, boleh memakai air tersebut untuk minum, membasuh kaki, atau berwudu tanpa perlu izin.

Peran ini makin berharga saat musim kemarau panjang, ketika suhu udara panas dan sumber air umum menyusut, sehingga ketersediaan air dingin dan segar menjadi penolong nyata bagi siapa saja yang lelah.

Bahkan di beberapa pemerintah desa mengadopsinya menjadi program resmi yang disebut Gentong Desa, berupa fasilitas air gratis di pinggir jalan sebagai upaya melestarikan semangat gotong royong, sekaligus langkah antisipasi saat kemarau melanda.

Di dalam rumah, sebelum kulkas dan dispenser umum dipakai, tempayan menjadi andalan utama. Sifat berpori tanah liat mampu menjaga air tetap dingin, segar, dan beraroma alami meski cuaca luar sangat panas dan kering. Tak hanya itu, tempayan juga memiliki makna sakral, dalam tradisi selamatan rumah baru, mengisinya penuh air adalah kewajiban sebagai doa agar penghuni rumah senantiasa tenang, bersih, dan rezeki tak pernah kering, harapan yang makin relevan saat menghadapi musim kemarau.

Saat ada hajatan besar seperti pernikahan atau khitanan dalam tradisi nyambat, deretan tempayan besar dikeluarkan untuk menampung air bersih dalam jumlah banyak. Selain air, tempayan ukuran sedang juga dipakai menyimpan beras, garam, atau bahan makanan yang difermentasi. Dindingnya yang kedap udara dan sejuk menjaga bahan makanan tetap awet serta terlindung dari hama, sangat berguna saat udara kemarau yang kering dan panas.

Dari sekadar wadah tanah liat, tempayan pernah menjadi bagian masyarakat Bekasi yang menyimpan nilai berbagi, kearifan memanfaatkan alam, serta kebersamaan yang makin terasa saat menghadapi tantangan musim kemarau. Bagaimana di tempat kalian?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *