Skip to content

Triple S: Bola Buatan Indonesia Pernah Dipakai di Piala Dunia

Info bekasi.co.id – Di Kabupaten Majalengka, Jawa Barat, terdapat satu kisah bisnis yang membuktikan, ketekunan dan keunggulan mutu mampu membawa karya tangan Indonesia menembus batas dunia.

Pada tahun 1998, saat mata penggemar sepak bola seluruh dunia tertuju pada Piala Dunia di Prancis, bola yang bergulir di sana ternyata dibuat oleh tangan‑tangan terampil pengrajin lokal daerah ini. Di balik kebanggaan itu berdiri sosok Moh. Irwan Suryanto, seorang pengusaha yang memulai hidup dari bawah, bahkan pernah mengemudikan bus demi bertahan hidup.

Perjalanan Irwan bukanlah kisah kemewahan yang instan. Sebelum namanya dikenal sebagai pendiri PT Sinjaraga Santika Sport dengan merek andalan Triple S, Ia telah melewati berbagai pekerjaan berat demi menyambung hidup. Mulai dari menjadi kernet angkutan umum jurusan Cirebon-Kadipaten, hingga menempuh perantauan ke ibu kota Jakarta dan bekerja sebagai sopir bus.

Titik balik nasibnya justru datang dari sebuah hobi yakni bermain tenis. Lewat kegiatan itulah Irwan berkenalan dan menjalin kerja sama dengan pengusaha asal Korea Selatan. Relasi ini membuka pintu peluang baru. Irwan mulai bergerak menjadi penyalur peralatan olahraga, sebelum akhirnya memberanikan diri melangkah lebih jauh, mendirikan pabrik pembuatan bola sendiri pada tahun 1994 di Kadipaten, Majalengka.

Perjalanan menuju keberhasilan tentu tidak berjalan mulus. Dua tahun setelah beroperasi, tepatnya tahun 1996, usaha ini hampir gulung tikar akibat krisis keuangan. Namun, Irwan tidak patah asa. Ia memegang teguh satu prinsip,  kualitas adalah kunci bertahan.

Ia menerapkan sistem pengawasan yang sangat ketat pada setiap tahap pembuatan. Bola‑bola buatan pabriknya dikerjakan dengan teknik jahitan tangan yang teliti, sehingga bola produksimya memiliki daya tahan dan bentuk yang stabil, sangat penting untuk standar pasar luar negeri. Keteguhan itulah yang menyelamatkan usaha tersebut dari kebagkrutan.

Puncak pengakuan datang pada tahun 1998. Melalui kerja sama produksi dengan raksasa merek olahraga dunia, Adidas, bola buatan PT Sinjaraga Santika Sport dinyatakan lulus uji standar ketat dari FIFA. Bola bernama Tricolore buatan Majalengka dikirim ke Prancis dan resmi digunakan dalam pertandingan‑pertandingan Piala Dunia kala itu.

Menurut Irwan, hal ini merupakan kebanggaan besar bagi Indonesia. Terbukti, produksi bola buatan tangan pengrajin lokal memiliki kualitas bertaraf internasional, telah diakui induk organisasi sepak bola dunia.

Keberhasilan ini membuka gerbang ekspor luas. Di masa kejayaannya, pabrik tersebut mampu mengirimkan hingga 10 kontainer atau sekitar 100.000 butir bola setiap bulan ke berbagai negara penggila sepak bola, mulai dari Brasil, Jerman, Belanda, hingga Jepang.

Karya Majalengka kembali dipercaya untuk memasok ajang bergengsi lain seperti Piala Eropa 2000, Piala Dunia 2002 di Jepang-Korea Selatan, hingga Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan.

Kini, peta industri bola global telah berubah. Teknologi sambungan panas atau thermo‑bonded mulai mendominasi pasar, membuat usaha berbasis jahitan tangan perlahan surut.

Namun, nama dan jejak keemasan PT Sinjaraga Santika Sport tetap terukir. Kisah Irwan Suryanto, dari kemudi bus hingga membawa nama Majalengka bersinar di panggung sepak bola dunia, akan selalu menjadi bukti, produk lokal Indonesia mampu bersaing dan berprestasi setinggi langit.

Data: Dari berbagai sumber

(ded)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *