Uji Arah Kiblat: Fenomena Istiwa A’zam, Waktunya Kalibrasi Kiblat Anda Sore Ini
infobekasi.co.id – Umat Muslim di sebagian besar wilayah Indonesia, termasuk Bekasi, berkesempatan untuk meluruskan kembali arah kiblat mereka sore ini secara mandiri. Fenomena astronomis tahunan dikenal sebagai Istiwa A’zam atau Rashdul Kiblat diprediksi bakal mencapai puncaknya hari ini, Rabu, 15 Juli 2026, tepat pada pukul 16.27 WIB.
Fenomena Istiwa A’zam merupakan momentum langka di mana posisi matahari berada tepat di titik zenit atau tegak lurus di atas bangunan Ka’bah, Makkah. Akibat dari posisi geometris ini, semua bayangan benda yang berdiri tegak lurus di belahan bumi sedang mengalami siang hari akan ditarik ke arah berlawanan dari Ka’bah.
Bagi masyarakat Indonesia, bayangan benda akan memanjang ke arah Timur-Tenggara, sehingga pangkal bayangan atau arah datangnya sinar matahari secara otomatis menjadi penunjuk kiblat yang sangat akurat.
Kementerian Agama RI dan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengimbau masyarakat untuk memanfaatkan momen ini, mengingat metode Rashdul Kiblat merupakan cara verifikasi paling mudah, alami, dan tanpa memerlukan alat khusus.
Masyarakat yang ingin melakukan kalibrasi arah kiblat di rumah, mushala, atau mesjid dapat mengikuti arahan berikut:
– Siapkan Alat Penunjuk: Gunakan tongkat lurus, tiang, atau tali berbandul yang digantung tegak lurus.
– Pilih Tempat yang Tepat: Pastikan benda diletakkan di area datar yang langsung terkena paparan sinar matahari sore.
– Sesuaikan Waktu: Pastikan jam atau arloji yang digunakan telah dikalibrasi dan sesuai dengan waktu standar nasional (BMKG).
– Tarik Garis Kiblat: Tepat pada pukul 16.27 WIB, amati bayangan yang terbentuk. Tarik garis lurus dari ujung bayangan menuju ke pangkal benda. Garis dari pangkal benda menuju matahari itulah arah kiblat yang presisi.
Sebagai informasi, fenomena alam ini hanya terjadi dua kali dalam setahun, yakni setiap akhir bulan Mei dan pertengahan bulan Juli.
Sayangnya, metode matahari ini tidak dapat dimanfaatkan oleh wilayah Indonesia Bagian Timur (WIT), sebab saat puncak fenomena terjadi, matahari di wilayah tersebut sudah terbenam.
(ded)


