Skip to content

Selamat Tinggal MOS, Selamat Datang MPLS

Infobekasi.co.id – Wajah masa orientasi siswa baru di Indonesia, termasuk di Bekasi, telah mengalami perubahan besar. Tradisi Masa Orientasi Siswa (MOS) dahulu identik dengan atribut aneh dan bentakan kakak kelas, kini berganti menjadi Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) mengedepankan edukasi, kreativitas, dan nilai kemanusiaan.

Perubahan ini menandai babak baru dalam pendidikan nasional, sekaligus menghapus budaya perpeloncoan yang sempat mengakar selama puluhan tahun.

Dari Atribut Nyeleneh Berubah Seragam Rapih

Bagi generasi yang bersekolah sebelum tahun 2016, kata “MOS” selalu memunculkan kenangan yang unik sekaligus menegangkan. Hari pertama masuk sekolah menengah sering diwarnai pemandangan siswa baru mengenakan topi kerucut dari karton, tas dari karung goni, hingga rambut yang dikuncir sembarangan dengan pita warna-warni.

Selain itu, siswa juga diwajibkan memecahkan teka-teki rumit untuk membawa bekal makanan. Istilah seperti “Susu Macan”, “Cacing Goreng”, atau “Nasi Perang” menjadi hal yang harus diterjemahkan agar tidak mendapat hukuman dari kakak kelas.

Namun pemandangan itu kini berubah total pasca terbitnya Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) Nomor 18 Tahun 2016. Aturan ini melarang segala bentuk atribut yang merendahkan martabat siswa. Di era MPLS saat ini, siswa baru memasuki sekolah dengan rapi mengenakan seragam lengkap dan tanda pengenal yang wajar.

Perubahan Peran, Guru Memegang Kendali Penuh

Perubahan paling mendasar terletak pada pihak yang melaksanakan kegiatan. Pada era MOS, Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS) atau kakak kelas memegang kendali penuh, yang sering kali berujung pada penyalahgunaan wewenang berupa perpeloncoan fisik maupun tekanan mental.

Lewat skema MPLS, tanggung jawab diserahkan sepenuhnya kepada kepala sekolah dan guru. Kakak tingkat kini hanya berperan sebagai fasilitator atau pendamping di bawah pengawasan ketat pihak sekolah. Langkah ini terbukti efektif menekan risiko kekerasan verbal maupun fisik antar-siswa.

Fokus Kegiatan yang Lebih Edukatif

Materi kegiatan pun mengalami pergeseran yang sangat signifikan. Jika dahulu MOS lebih banyak diisi aktivitas fisik dan ajang penindasan, MPLS kini diisi hal-hal produktif.

Siswa baru dibekali pemahaman tentang Kurikulum Merdeka, visi-misi sekolah, simulasi mitigasi bencana, sosialisasi anti-perundungan, hingga bahaya narkoba. Suasana dibuat menyenangkan lewat kegiatan pengenalan, permainan kelompok, hingga pembuatan konten kreatif.

Transformasi dari MOS menjadi MPLS membuktikan bahwa pengenalan lingkungan sekolah tidak harus lewat tekanan atau rasa takut. Lewat pendekatan ramah anak, sekolah kini menjadi tempat yang aman dan nyaman sejak hari pertama siswa melangkahkan kaki.

#infobekasi #pendidikan #MPLS #MOS

(Ded)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *