Skip to content

Fakta Sejarah: Jenderal Soedirman Tidak Pernah ke Gedung Papak Bekasi

Infobekasi.co.id – Anggapan yang beredar di publik, bahwa Jenderal Soedirman pernah berkunjung ke Gedung Papak, Bekasi, ternyata tidak benar. Hal ini ditegaskan oleh sejarawan Bekasi, Ali Anwar, saat dimintai konfirmasi terkait kabar tersebut.

“Tidak benar. Memangnya siapa yang mengatakan demikian,” ujar Ali saat dikonfirmasi infobekasi, Sabtu (18/7/26).

Lebih jauh Ia menjelaskan, seringkali masyarakat hanya berasumsi terhadap sebuah peristiwa sejarah. Padahal, sejarah mencatat apa yang benar-benar terjadi, bukan apa yang diinginkan atau dibayangkan.

“Fakta yang sebenarnya, Jenderal Soedirman beserta rombongan memang pernah berangkat dari Yogyakarta menuju Jakarta pada tahun 1946 untuk menjalankan misi perundingan. Namun, perjalanan mereka tertahan oleh pasukan NICA di pos penjagaan Stasiun Kranji. Merasa kecewa, Soedirman kemudian kembali ke Yogyakarta,” beber Ali Anwar.

Sekedar informasi. Gedung Papak yang terletak di Jalan Ir. H. Juanda, Bekasi Timur, merupakan salah satu bangunan bersejarah peninggalan tahun 1930-an.

Nama “Papak” diambil dari ciri khas atapnya yang berbentuk datar, dalam bahasa daerah disebut papak. Awalnya gedung ini dimiliki pengusaha keturunan Tionghoa bernama Lee Guan Chin, kemudian menyerahkannya secara sukarela kepada KH. Noer Alie untuk dijadikan markas perjuangan rakyat Bekasi pada masa Revolusi Fisik. Setelah kemerdekaan, gedung ini sempat menjadi pusat pemerintahan Kabupaten Bekasi dan rumah dinas Bupati sebelum dialihfungsikan.

Terpisah, Penggiat Sejarah Bekasi, Endra Kusnawan, juga menyampaikan, hingga saat ini dirinya belum menemukan data kabar Jenderal Soedirman pernah datang ke Gedung Papak Bekasi.

Namun menurutnya, sejarah senantiasa terbuka terhadap perubahan jika ditemukan bukti baru, hal ini disebut sebagai Sifat Tentatif Sejarah (Tentative Nature of History).

Dalam dunia akademis, konsep ini juga dikenal sebagai Konstruksionisme Sejarah, yang artinya sejarah bukanlah kebenaran mutlak yang tetap, melainkan rekonstruksi masa lalu yang dibangun berdasarkan bukti-bukti yang ada pada masa kini.

“Saat ini saya belum menemukan data itu. Jika ada yang punya bukti silakan dipaparkan. Sebab, sejarah selalu terbuka terhadap kritik, dan perubahan bukti baru,” tegas Endra saat berbincang beberapa waktu lalu.

(ded)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *