Skip to content

Bambang Pacul: Mentalitet Korea dan Filosofi “Sandal Jepit” di Era Privilese

Infobekasi.co.id – Saat ini, istilah privilese dan anak pejabat/kaya mendominasi percakapan anak muda soal kesuksesan. Namun belakangan muncul istilah yang menarik perhatian, yakni Mentalitet Korea. Dipopulerkan politisi senior Bambang Wuryanto atau akrab disapa Bambang Pacul, ini bukan merujuk pada demam K-Pop atau drama Korea. Kata Korea di sini adalah bahasa gaul subkultur Jawa untuk menyebut kaum marjinal, orang miskin, kuli, pekerja kasar, hingga mereka yang berada di lapisan terbawah masyarakat alias rakyat jelata.

Awalnya sebutan ini bernada merendahkan. Namun di tangan Bambang Pacul, istilah itu berubah menjadi semangat perjuangan kelas bawah. Dalam tulisannya, Mentalitet Korea Jalan Ksatria, konsep ini hadir sebagai jawaban segar di tengah masyarakat yang kian mementingkan jalan pintas dan hubungan semata.

Mentalitet Korea bukan sekadar memuji kemiskinan, melainkan kebutuhan mendesak bagi generasi saat ini. Menurut Bambang Pacul, ada tiga alasan mengapa filosofi “sandal jepit” ini sangat relevan untuk kita teladani.

1. Menepis Ratapan, Fokus Melangkah

Kini banyak orang terjebak menyalahkan keadaan saat gagal: “Saya bukan anak orang kaya,” atau “Saya tidak punya koneksi.”.

Mentalitet Korea membuang jauh keluhan itu. Orang dengan mental ini diajarkan untuk menerima kenyataan sejak awal, bukan untuk menyerah, melainkan untuk sadar diri. Mereka paham lahir tanpa alas kaki. Dengan menerima itu, tenaga tidak habis mengutuk kegelapan, melainkan habis untuk mencari cara menyalakan pelita. Ini adalah tamparan keras bagi mentalitas instan yang mudah menyerah.

2. Jadilah Seperti Rotan, Bukan Getas Seperti Jati

Bambang Pacul kerap mengibaratkan orang bermental Korea seperti rotan, bukan kayu jati. Jati memang keras dan mahal, tapi sekali dibebani berlebihan bakal patah. Sedangkan rotan sangat lentur, saat ditekan ke bawah melengkung, mengumpulkan tenaga, lalu melenting jauh lebih tinggi ke atas.

Dunia kerja dan persaingan saat ini tidak ramah bagi mereka yang bermental kaca, yang hancur hanya karena teguran atau komentar jahat di media sosial. Orang bermental Korea ditempa oleh kesulitan, penolakan, dan keterbatasan. Bagi mereka, kegagalan bukan akhir, melainkan bahan bakar untuk bangkit lebih kuat. Ketangguhan bertahan hidup ini tidak bisa dibeli dengan uang sekolah mahal sekalipun.

3. Sukses Tanpa Amnesia Sosial

Inti paling utama dari Mentalitet Korea menurut Bambang Pacul, menjaga harga diri dan kesetiaan setinggi langit. Di zaman sekarang, kesetiaan sering dianggap tidak penting, orang mudah berpindah pihak demi jabatan atau uang.

Sebaliknya, Mentalitet Korea memegang teguh Jalan Ksatria. Saat berhasil naik derajat, seseorang tidak boleh lupa diri. Ia wajib ingat siapa yang menolong saat susah, siapa yang membuka pintu saat dirinya terasing.

Kesetiaan pada janji dan rasa berterima kasih adalah nilai tertinggi di sini. Ini adalah kritik tajam bagi sikap mementingkan diri sendiri yang kini dianggap biasa dalam dunia kerja, bermasyarakat maupun di dunia politik.

Mentalitet Korea mengingatkan kita semua, keterbatasan atau tidak punya keistimewaan bukan berarti tak bisa sukses. Keterbatasan harta justru bisa berubah menjadi kekuatan mental yang tak ternilai, keberanian yang terukur, ketangguhan sekeras baja, dan kelenturan layaknya rotan.

Sukses bukan soal dari mana Anda memulai, melainkan seberapa tinggi Anda mampu melenting setelah berulang kali jatuh ke titik terendah. Di dunia yang makin rapuh ini, mungkin kita semua perlu belajar menjadi seorang “Korea”.

(ded)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *