Kemarau, Kebakaran dan Krisis Air Bersih
infobekasi.co.id – Musim kemarau pada Juli 2026 membuka mata kita pada satu kenyataan pahit. Bekasi kini sedang menghadapi krisis ganda. Di satu sisi, warga menjerit membutuhkan air bersih. Di sisi lain, kobaran api kerap melahap harta benda, sebagian besar justru dipicu oleh tangan manusia sendiri. Ini bukan sekadar masalah cuaca tahunan, melainkan alarm keras atas rapuhnya kesiapan kita menghadapi perubahan alam.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) mencatat, kekeringan ekstrem telah meluas ke belasan desa di lima kecamatan, yakni Cibarusah, Bojongmangu, Serang Baru, Cikarang Selatan, hingga Pebayuran. Lebih dari 17.000 warga kini sepenuhnya menanti tumpahan air dari truk tangki darurat. Sumur mengering, lahan pertanian meranggas, sementara kebutuhan air sehari-hari menjadi barang mewah.
Namun di saat yang sama, berita kebakaran silih berganti muncul. Mulai dari ilalang kering di pinggir tol, tumpukan kayu di Kadungwaringin, hingga rumah warga dan bengkel di sepanjang Kalimalang dan Cibitung.
Ironisnya, penyebab utamanya bukan ledakan alam, melainkan kelalaian sepele, membakar sampah sembarangan, membuang puntung rokok, atau korsleting listrik yang dibiarkan. Di tengah tanah yang retak dan angin panas, satu percikan api bisa berubah menjadi bencana besar dalam hitungan menit.
Fenomena ini menampar dua kelemahan mendasar kita. Pertama, sistem pengelolaan sampah yang belum menjangkau hingga ke lingkungan terkecil, sehingga warga merasa membakar adalah cara termudah membuang limbah. Kedua, rendahnya kesadaran, di musim kering, api adalah ancaman yang tak boleh diremehkan.
Pemerintah memang sudah bergerak mendistribusikan air bersih dan mengerahkan armada pemadam kebakaran. Namun, mengandalkan penanganan saat bencana sudah terjadi ibarat mengobati luka tanpa menghentikan pendarahannya. Seringkali petugas Damkar terhambat kemacetan jalan atau keterbatasan pasokan air di lokasi kejadian.
Kini saatnya mengubah pola pikir dari sekadar siaga bencana menjadi mencegah bencana. Pertama, perluasan jaringan pipa Perumda Tirta Bhagasasi harus segera direalisasikan, agar warga tidak selamanya bergantung pada truk tangki. Kedua, pengolahan sampah harus dilakukan di sumbernya, agar kebiasaan membakar perlahan hilang. Ketiga, perlu ada edukasi masif dan penegakan aturan tegas bagi siapa saja yang nekat membakar sampah saat musim kemarau.
Krisis kemarau ini harus menjadi titik balik. Alam sudah memberi sinyal peringatan yang sangat jelas. Pilihan ada di tangan kita, tetap diam dan membiarkan Bekasi terus didera kekeringan sekaligus kebakaran, atau bangkit bersama membangun wilayah yang lebih tangguh, peduli lingkungan, dan saling menjaga.
(ded)


