Skip to content

Musim Paceklik: Ketika Nasib Petani Bekasi Bertemu Kisah Petruk di Tumaritis

Infobekasi.co.id – Musim paceklik bukan lagi dongeng pengantar tidur. Di Kabupaten Bekasi, realitas itu terlihat nyata dari tanah persawahan yang mulai retak. Data mencatat 2.592 hektare lahan pertanian terancam kekeringan, dan 75 hektare di antaranya sudah tak bisa diselamatkan lagi.

Akibatnya, petani di wilayah Tambelang hingga Pebayuran terpaksa memanen padi lebih awal, meski kualitasnya belum sempurna, hanya demi menyelamatkan sisa modal dan kebutuhan makan keluarga.

Di tengah pemandangan itu, ingatan kita melompat ke sosok Petruk ciptaan komikus legendaris Tatang S. Tokoh dari Desa Tumaritis itu seolah bangkit kembali, mewujud dalam ratusan petani yang kini pontang-panting memutar otak menghadapi krisis air.

Ironi Desa Tumaritis di Tanah Bekasi

Bagi generasi 80-an dan 90-an, komik saku Tatang S. adalah cermin paling jujur kehidupan rakyat kecil. Ketika Dinas Pertanian mengimbau petani mengganti jenis tanaman karena air makin sulit didapat, bayangan itu persis seperti adegan Petruk dan Gareng duduk di pos ronda meratapi sumur desa yang mengering.

Tatang S. selalu menempatkan tokohnya di posisi paling rentan: rakyat tanpa privilese yang harus berdamai dengan keadaan alam. Siasat petani Bekasi memajukan waktu panen, meski hasilnya belum maksimal, adalah bentuk nyata semangat bertahan hidup ala Petruk. Mereka tak punya kemewahan menunggu hujan turun, pilihannya hanya bergerak cepat atau merugi total.

Tawa Getir Sebagai Kekuatan

Salah satu kehebatan cerita Petruk adalah bagaimana dirinya menertawakan kemiskinan dan kesusahan, tanpa menyalahkan keadaan. Di lapangan pun demikian, menghadapi sawah yang kering, petani tetap saling melempar seloroh di sela-sela memompa sisa air parit.

Ini bukan sikap meremehkan bencana, melainkan cara menjaga akal sehat. Meratap tak akan membuat bulir padi menguning. Maka tawa getir menjadi perisai terakhir mereka menghadapi kerasnya hidup, sesuatu yang digambarkan Tatang S. dengan sangat apik.

Bukan Sekadar Imbauan, Tapi Butuh Aksi Nyata

Setiap cerita komik Tatang S. selalu berakhir dengan pesan gotong royong. Kini, petani Bekasi tak lagi butuh sekadar surat imbauan di atas kertas. Mereka butuh tindakan nyata, yakni distribusi pompa air yang merata tanpa prosedur berbelit. Penyediaan bibit tanaman alternatif yang cepat panen. Solidaritas warga dan pemerintah menjaga pasokan pangan lokal

Kondisi hari ini adalah cermin yang belum banyak berubah. Petani kita masih menjadi “Petruk” masa kini, jenaka, tangguh, penuh siasat, namun sering dibiarkan berjuang sendiri menghadapi alam yang kian tak menentu. Sudah saatnya pemangku kebijakan turun ke “Desa Tumaritis” yang nyata ini, agar urusan perut rakyat tidak berakhir menjadi tragedi.

(Dede Rosyadi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *