Skip to content

Ketika Merah Putih Kalah Saing dengan Daster Macan

infobekasi.co.id – Bagaimana tidak ironis? Setiap kali memasuki bulan Agustus, pemandangan di gang-gang pemukiman kita kerap menyuguhkan realita yang menggelitik sekaligus menyayat hati, tiang-tiang bambu seharusnya menegakkan kehormatan bangsa, justru jauh lebih konsisten “mengibarkan” daster bergambar bunga hingga macan, celana panjang, dan handuk basah ketimbang Sang Saka Merah Putih.

Fenomena memasang bendera yang selalu mepet jelang tanggal 17 Agustus bukan lagi sekadar kebiasaan buruk, melainkan sudah menjelma budaya yang pantas disebut “Patriotisme Minimalis.” Jiwa nasionalisme warga seolah diprogram masuk mode hibernasi total sejak awal bulan, dan baru akan bangun secara ajaib tepat pada malam 16 Agustus.

Bahkan ada tempat tinggal yang sudah enggan “malas” mengibarkan bendera merah putih saat 17 Agustus, entah alasan “belum merdeka secara lahir batin” atau pusing memikirkan urusan dapur.

Itu pun biasanya bukan karena kesadaran hati, melainkan dipicu rasa panik saat mendengar sayup-sayup langkah Ketua dan pengurus RT yang sedang melakukan sidak keliling kampung.

Berbagai alasan kerap jadi tameng. Mulai dari alasan cuaca panas ekstrem Bekasi yang dikhawatirkan melunturkan warna merah bendera, hingga alasan efisiensi biaya agar kain bendera tidak cepat rusak diterpa debu kendaraan. Namun di balik segala candaan dan alasan logis itu, terselip fakta yang cukup miris tentang bagaimana kita memaknai identitas kota ini.

Para pendahulu kita, KH. Noer Ali, Mayor M. Hasibuan dan para pejuang lainnya yang tidak disebutkan namanya, pernah bertaruh nyawa mengusir penjajah agar Merah Putih bisa berkibar bebas di tanah ini. Hari ini, kita yang hidup di masa damai justru menganggap sepele tugas sederhana, memasang selembar kain bendera selama sebulan penuh.

Kita terlalu sibuk mendefinisikan “perjuangan modern” hanya sebatas bertahan hidup menembus kemacetan brutal di Jalan Jembatan Besi, Logos-Harapan Indah, saat jam sibuk pagi dan sore, sampai lupa bahwa menghormati simbol negara adalah cara paling mendasar merawat ingatan sejarah.

Menjelang peringatan kemerdekaan tahun ini, mari kita geser sedikit ego dan tali jemuran di depan rumah. Sangat tidak elok jika kota yang melahirkan para patriot ini justru lebih dikenal dengan militansi warganya dalam mengeringkan sandang, ketimbang semangatnya mengibarkan lambang kedaulatan bangsa.

Hormatilah kemerdekaan ini setidaknya satu bulan penuh dalam setahun, sebelum tiang-tiang itu kembali beralih fungsi menjadi penopang tanaman atau jemuran sehari-hari.

(ded)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *