19 Oktober 1945: Peristiwa Berdarah di Kali Bekasi Mengguncang Hubungan Diplomatik
Infobekasi.co.id – Pasca Proklamasi Kemerdekaan, Indonesia masih dalam situasi laksana “hutan rimba”. Kekuasaan pusat belum kokoh, Jepang telah menyerah, dan Sekutu belum sepenuhnya menguasai keadaan. Di Bekasi, situasi jauh lebih liar.
Tanpa penguasa tradisional yang tersisa, kekuasaan dipegang mereka yang paling kuat. Di tengah kekosongan wibawa pemerintah resmi, tokoh-tokoh jawara seperti Haji Djole memiliki pengaruh besar di tengah masyarakat.
Sumber buku ‘Sejarah Bekasi’ yang dihimpun Endra Kusnawan, memaparkan, puncak ketegangan meletus pada 19 Oktober 1945. Sebuah kereta api yang mengangkut sekitar 87 tentara Jepang dari kesatuan Angkatan Laut (Kaigun), dalam perjalanan dari Jakarta menuju Lapangan Udara Kalijati, Subang, dihentikan di Stasiun Bekasi.
Sentimen anti-penjajah sedang memuncak. Massa yang memendam dendam atas kekejaman pendudukan Jepang segera mengepung kereta tersebut.
Para serdadu sekutu digiring keluar dan dibawa ke tepi Kali Bekasi. Seluruhnya dieksekusi satu per satu. Air sungai pun berubah warna menjadi merah.
Peristiwa itu memicu kemarahan Laksamana Maeda dari pihak Jepang yang menuntut pertanggungjawaban.
Kepala Polisi RI, Raden Said Soekanto, terpaksa mengakui jujur, saat itu pemerintah belum sepenuhnya mampu mengendalikan rakyat Bekasi yang belum tunduk pada hukum negara.
Di sisi lain, insiden ini melahirkan keuntungan bagi perjuangan kemerdekaan, berupa rampasan senjata dalam jumlah besar.
Kini, sebuah monumen berdiri di tepi Kali Bekasi, menjadi pengingat sekaligus simbol, bagi sebagian orang bermakna patriotisme, bagi sebagian lainnya adalah peringatan akan pentingnya perdamaian dan kasih sayang sesama manusia.
(dpr)


