Skip to content

Nyak Isah ‘Pejuang Dapur Umum’ dan Melati di Tapal Batas

Infobekasi.co.id – Nyak Isah, perempuan dari Kampung Tugu, Bekasi Timur, yang turut berjuang di dapur umum pada masa Revolusi Kemerdekaan. Ia dan para perempuan Bekasi lainnya menyiapkan makanan bagi pasukan Republik di garis depan, namun tidak mendapat surat veteran.

Bahkan, nyaris tidak ada satu pun perempuan pejuang dapur umum di Bekasi yang menerima surat penghargaan maupun tunjangan veteran.

“Di Bekasi ini dulu banyak pejuang perempuan di dapur umum. Namun, pada tahun 1970-an hingga 1980-an, nyaris tidak ada satu perempuan pun yang mendapatkan surat veteran. Karena syarat untuk menjadi veteran itu berjuang penuh dari tahun 1945 sampai 1949,” ujar Sejarawan Bekasi Ali Anwar kepada infobekasi, Minggu (16/8/26).

Ali Anwar menjelaskan, pola perjuangan para perempuan di dapur umum tidak seperti pejuang pria yang secara terus menerus ikut berjuang. Setiap tempat ada dapur umum dan yang masak perempuan yang berbeda, berganti-ganti orang. Sehingga tidak tercatat bertempur dalam satu kurun waktu yang utuh.

“Misalkan, sekarang di Kranji, besoknya di Tugu Bekasi, terus kemudian di Tambun, orangnya (yang masak di dapur umum untuk pejuang) sudah lain lagi. Jadi perempuan-perempuan itu berjuangnya tidak dalam kurun waktu yang utuh, tidak sampai 1945 sampai 1949, termasuk Nyak Isah” terang Ali Anwar.

Masih katanAli Anwar, Ia menuturkan, pernah ada upaya agar nama Nyak Isah diakui sebagai pejuang dan terdaftar sebagai veteran, bahkan surat usulannya telah ditandatangani oleh Marzuki Hidayat Marzuki Hidayat seorang tokoh pejuang kemerdekaan asal Bekasi. Namun harapan itu kandas di tingkat pusat.

“Nyak Isah dulunya ikut berjuang di dapur umum. Pernah dibuatkan usulan supaya Ia diakui sebagai veteran, yang suratnya ditandatangani oleh Marzuki Hidayat. Namun di tingkat pusat tidak bisa,” bebernya.

Alasan penolakan itu ternyata sederhana, namun cukup meyedihkan bagi para perempuan yang telah berjuang di dapur umum. Nyak Isah hanya mampu bertahan hingga tahun 1946, setelah itu diriny kembali mengurus keluarganya dan tak dapat ikut bergerak jauh ke wilayah lain.

“Karena Nyak Isah itu berjuangnya hanya dari tahun 1945 sampai 1946. Setelah itu Ia kembali ke keluarganya di Kampung Tugu Bekasi, tidak mungkin ikut hingga ke Karawang atau tempat lain. Itulah sebabnya begitu banyak perempuan yang berjuang di Bekasi justru tidak ada yang mendapat pengakuan veteran,” jelas Ali Anwar.

Dari keterbatasan pengakuan itulah, Ali Anwar kemudian menemukan makna yang lebih dalam dari sebuah lagu ciptaan Ismail Marzuki. Lagu itu seakan menjadi penghormatan tersirat yang tak diberikan negara kepada para perempuan Bekasi.

“Makanya saya mencoba menganalisis, mengapa ada satu judul lagu karya Ismail Marzuki, ‘Melati di Tapal Batas’. Lagu itu rupanya bicara tentang perempuan-perempuan, melati-melati di tapal batas Bekasi,” kata Ali Anwar.

Pada akhirnya, alasan ketiadaan hak veteran kembali pada satu syarat administratif yang tak dapat dipenuhi para perempuan pejuang. Mereka tetap berharga di mata sejarah, namun belum memenuhi syarat formal yang ditetapkan negara.

“Usai Indonesia merdeka, para perempuan yang ikut berjuang di bagian logistik dan dapur umum juga tidak mendapat dana kehormatan atau tunjangan veteran. Mereka dinilai belum memenuhi syarat sebagai pejuang, karena aturan mengharuskan tercatat bertempur dalam kurun waktu 1945-1949,” tutup Ali Anwar.

(ded)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *