Skip to content

Dari Mega Bekasi Hypermall Hingga Plaza Patriot Sejarah Berulang, Taktik Lama Berbenturan Ruang Publik

Infobekasi.co.id – Belum lama ini, publik dikejutkan dengan video viral Wali Kota Bekasi, Tri Adhianto, melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke area Plaza Chandrabaga Patriot, Kota Bekasi.

Para pedagang kaki lima yang memadati ruang publik tersebut memicu kemarahan wali kota, yang kemudian memerintahkan penertiban demi mengembalikan fungsi ruang terbuka bagi masyarakat luas.

Namun di balik keramaian yang dianggap mengganggu itu, ternyata tersimpan sebuah pola yang bukan hal baru di dunia perdagangan Bekasi.

Hal itu diungkapkan Sejarawan Bekasi, Ali Anwar, fenomena penyempitan ruang untuk menarik pembeli sudah terjadi sejak puluhan tahun silam di Bekasi.

Ia membangkitkan memori masa lalu, saat peristiwa saat peresmian Mega Bekasi Hypermall di masa pemerintahan Wali Kota Bekasi Nonon Sonthanie.

“Saat itu, separuh badan jalan di depan pusat perbelanjaan belum diaspal. Penyempitan jalan dari berbagai arah justru membuat pengendara penasaran. Alih-alih sepi, ribuan calon pembeli justru berdatangan, bertepatan digelarnya obral dan diskon besar-besaran,” tutur Ali, Rabu (26/8/26).

Menurutnya, bukan sekadar kebetulan, hal itu adalah strategi yang dipahami para pedagang sejak lama. Supaya area dagangnya macet, harus membuat suasana menjadi ramai dan bahkan heboh.

“Barang dagangan dibikin maju 15-20 sentimeter ke lorong. Begitu juga kios di depannya. Dengan ruang yang sempit, pejalan kaki otomatis memperlambat langkah, bahkan berhenti. Saat itulah mata mereka tertuju pada barang yang dijajakan, pedagang langsung menawarkan, dan terjadilah transaksi,” urai Ali Anwar, yang pernah meneliti pola ini sejak di kawasan Glodok, Jakarta, hingga Bekasi pada awal 2000-an.

Ali Anwar membeberkan, setidaknya ada tiga faktor utama yang membuat sektor perdagangan formal semakin tertekan dan melahirkan maraknya pedagang kaki lima.

Pertama, kata Ali, persaingan usaha yang semakin ketat dengan munculnya mal-mal baru. Pasar Lama Bekasi tergerus kehadiran Bekasi Junction, lalu menyusul Pasar Baru, Metropolitan Mal, Bekasi Hypermall, Grand Mal, Summarecon, Grand Metropolitan, hingga Pakuwon.

“Semakin banyak pusat perbelanjaan, semakin ketat persaingannya,” kata Ali.

Kedua, kondisi ekonomi yang lesu dan tingginya angka PHK. Banyak orang kehilangan pekerjaan, sehingga bermunculan aneka jualan dalam bentuk kios dan pedagang kaki lima sebagai alternatif bertahan hidup.

“Dan yang terakhir, ketiga hadirnya jasa layanan pesan-antar makanan seperti GoFood. Perilaku belanja masyarakat berubah, sehingga pusat perbelanjaan dan restoran pun kehilangan pengunjung,” tandasnya.

Kini, pola serupa terulang di Plaza Stadion Patriot Candrabhaga. Para pedagang kaki lima yang berjualan di ruang publik itu menyempitkan jalur pejalan kaki, sehingga keramaian terjadi. Namun kali ini, strategi itu justru berujung penertiban oleh pemerintah kota.

“Sejarah seakan berulang. Dulu, penyempitan jalan di depan Mega Bekasi Hypermall justru mendatangkan pembeli. Kini, penyempitan ruang publik di Plaza Patriot justru dilarang keras,” ucap pria yang akrab disapa Kong Ali Tersebut.

Di balik fenomena itu, masih kata Ali, terlihat jelas tekanan yang dialami dunia perdagangan dari persaingan pusat perbelanjaan, kondisi ekonomi yang sulit, hingga perubahan gaya hidup belanja masyarakat.

“Pola penyempitan ruang untuk berdagang kini semakin marak,” imbuhnya.

Di tengah benturan dua kepentingan yang sama-sama memiliki dasar kuat, Ali Anwar menegaskan, perlunya Win-win solution (Jalan tengah) yang adil bagi semua pihak.

“Harus ada letak titik temu agar pedagang tetap bisa berdagang dengan layak, tanpa mengorbankan hak masyarakat di ruang publik. Ini PR bagi pemerintah setempat,” pungkasnya.

(ded)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *