Skip to content

Ketika BJ. Habibie “Mendarat” di Jumalang, Kongkow Dengan Para Tokoh Bekasi

Infobekasi.co.id – Wilayah Jumalang, kini Ujungharapan, tepatnya di Pondok Pesantren Attaqwa Pusat, terletak di Ujungharapan,Bahagia, Babelan, Kabupaten Bekasi, menyimpan memori kolektif bersama Presiden ke-3 Republik Indonesia, Prof. Dr. Ing. H. Bacharuddin Jusuf Habibie (BJ Habibie).

Kunjungan historis sang teknokrat dunia ke pesantren yang didirikan ulama KH. Noer Ali tersebut terus dikenang oleh warga Bekasi hingga saat ini, sebagai simbol keharmonisan antara ilmu pengetahuan, teknologi, dan nilai keimanan.

Dalam catatan sejarah, kunjungan itu pada tanggal 15-16 Januari tahun 1994, kedatangan BJ. Habibie disambut para tokoh, Ulama, masyarakat dan ribuan pelajar. Saat itu Ia masih menjadi Meristek, belum naik tahta Presiden Republik Indonesia.

Pertemuan tersebut berlangsung penuh kehangatan dan kekeluargaan, mencerminkan visi besar Habibie yang selalu menggaungkan pentingnya sinergi antara Iptek (Ilmu Pengetahuan dan Teknologi) dan Imtak (Iman dan Takwa).

Salah satu momen ikonik dari kunjungan tersebut yang sempat viral di media yakni, potret dokumentasi yayasan Attaqwa, memperlihatkan gaya duduk B.J. Habibie yang santai dan membumi saat berdialog dengan para tokoh agama di atas karpet usai makan siang.Foto ini dinilai publik sebagai keteladanan dari seorang pemimpin besar Indonesia yang menaruh rasa simpati menyambangi dunia pesantren hingga ke pelosok, bercengkrama ke para ulama duduk bareng tanpa kursi kemewahan, tanpa protokoler yang ribed.

Ikatan emosional ini menyisakan kesan mendalam bagi masyarakat Bekasi, saat B.J. Habibie wafat pada September 2019 lalu, Kyai Ponpes Attaqwa menetapkan hari berkabung dan menginstruksikan seluruh warga Bekasi.

Warga, para tokoh masyarakat, ulama dan pelajar menggelar salat gaib dan doa bersama secara serentak di setiap waktu salat fardhu. Hal itu sebuah timbal balik dari rasa hormat BJ Habibie ke pada para ulama.

Kunjungan B.J. Habibie ke Ujungharapan, Ponpes Attaqwa Bekasi kini abadi sebagai warisan sejarah, mengingatkan generasi muda, bahwa kemajuan teknologi harus berjalan selaras dengan fondasi moral dan agama yang kokoh.

(ded)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *