Telusur Kali Bekasi di Kebalen, Riwayat Perburuan “Harta Karun” Tarumanegara
Infobekasi.co.id – Aliran air Kali Kebalen yang tenang di utara Kabupaten Bekasi, masih menyimpan sejarah. Di balik riak air yang hitam kadang kecokelatan, wilayah yang terhubung langsung dengan hilir Kali Bekasi.
Hal itu, kerap memantik rasa penasaran warga dan pemburu benda kuno terkait keberadaan “harta karun” peninggalan Kerajaan Tarumanegara dan kebudayaan prasejarah.
“Sempat disini, banyak orang berenang turun ke kali ini. Kayanya sih nyari paku. Mungkin yang dicari itu sisa-sisa benda peninggalan zaman kerajaaan, kan kali Kebalen ini terusannya dari Kali Bekasi,” tutur Husen, warga Kebalen yang dari lahir sudah menetap dibantaran kali tersebut saat berbincang dengan infobekasi, Minggu (30/8/26).
Secara geografis dan historis, Kali Kebalen merupakan bagian dari sistem hidrologi Kali Bekasi purba. Menurut para ahli sejarah, aliran ini merupakan terusan dari Sungai Candrabhaga, yakni sungai purba yang digali atas perintah Raja Purnawarman dari Kerajaan Tarumanegara pada abad ke-5 Masehi.
“Kalau soal benda-benda begitu saya ora idep (tidak mengerti). Yang saya tahu dari kecil, cuma ini kali peninggalan kerajaan Tarumanegara,” jelas Husen.
Penggalian kolosal tersebut kala itu bertujuan untuk mengendalikan banjir sekaligus mengairi lahan pertanian di wilayah kekuasaannya. Berangkat dari catatan Prasasti Tugu tersebut, kawasan tepi sungai di utara Bekasi ini dipercaya memendam sisa-sisa peradaban masa lampau.
“Setiap wilayah punya patok leluhur. Kalau benda-benda itu diambilin, apalagi dijual beliin, ya merusak alam. Kecuali buat penelitian, atau nambah ilmu pengetetahuan enggak masalah. Inget setiap tempat ada leluhurnya, kalau alam rusak kita yang kena imbasnya,” beber Husen.
Diketahui, aktivitas berburu harta karun di wilayah ini sebenarnya ada “benang merah” terkait pada fenomena masif yang terjadi di Situs Buni, sebuah situs multiperadaban lokasinya bertetangga langsung dengan wilayah Kebalen, tepatnya di Desa Muara Bakti, Kecamatan Babelan.
“Pernah ada warga nyangkul di lahan sekitar Buni Bakti. Pas kena pacul, ada perhiasan emas. dijual lah perhiasan itu ke toko emas dan laku. Nah, yang nemu itu cerita ke warga lain, berbondong-bondong dah warga nyari emas di situ. Lokasinya itu di kampung Pasar Emas Buni Bakti,” tutur Ali Anwar, Sejarawan Bekasi, saat berbincang kepada infobekasi, bebeberapa waktu lalu.
Berdasarkan catatan sejarah cagar budaya, demam perburuan emas pertama kali pecah sekitar tahun 1958. Kala itu, warga setempat secara tidak sengaja menemukan kilauan manik-manik dan emas saat sedang menggali saluran air di area persawahan.
“Pernah ada warga nyangkul tanah sekitar Buni Bakti. Pas kena pacul, ada perhiasan emas. dijual lah perhiasan itu ke toko emas dan laku. Nah, yang nemu itu cerita ke warga lain, berbondong-bondong dah warga nyari emas di situ. Lokasinya itu di kampung Pasar Emas Buni Bakti,” tutur Ali Anwar, Sejarawan Bekasi, saat berbincang kepada infobekasi, bebeberapa waktu lalu.
Berita penemuan tersebut menyebar cepat, memicu gelombang kedatangan ribuan pemburu harta karun dari berbagai daerah seperti Jakarta hingga Jawa Tengah.
Mereka berbondong-bondong menjungkirbalikkan tanah persawahan dan tepian sungai menggunakan cangkul demi mencari logam mulia.
Akibat saking banyaknya emas dan perhiasan yang ditemukan dan ditransaksikan secara liar di sana, lokasi penemuan awal tersebut bahkan berubah nama menjadi Kampung Pasar Emas.
Saat ini, sisa-sisa kejayaan peradaban di utara Bekasi tersebut menghadapi tantangan berat. Berdasarkan pantauan infobekasi, tidak ada lagi aktivitas penggalian liar secara masif karena wilayah tersebut telah dilindungi oleh undang-undang cagar budaya.
Bagi masyarakat Bekasi, kisah berburu “harta karun” di sepanjang aliran air Kebalen hingga Babelan bukan lagi sekadar cerita berburu emas, di bawah tanah yang mereka pijak, pernah berdiri sebuah peradaban megah menjadi salah satu sejarah Nusantara.
(ded)


