Menulis untuk Hidup, Cara Menolak Gila di Tengah Berisiknya Dunia
Infobekasi.co.id – Jauh sebelum mesin cetak merajai peradaban modern, ulama abad pertengahan, Imam Al-Ghazali, pernah menitipkan sebuah pesan menohok bagi eksistensi manusia, yakni jika kamu bukan anak seorang raja, dan bukan pula anak seorang ulama besar, maka menulis lah.
Berabad-abad kemudian, di atas tanah Indonesia, sastrawan Pramoedya Ananta Toer menyambung estafet pemikiran tersebut dengan kalimat yang tak kalah “bertenaga”. Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama Ia tidak menulis, Ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.
Kedua tokoh lintas zaman ini sedang menyuarakan satu kebenaran universal yang sama, menulis adalah cara terbaik bagi manusia biasa untuk mendemokratisasi sejarah.
Anda tidak perlu lahir dari rahim kekuasaan politik ataupun dinasti keilmuan megah untuk bisa mewarnai dunia. Melalui tinta yang digoreskan, ingatan manusia yang rapuh dan umur biologis yang fana sengaja dilompati, agar gagasan kita tetap hidup melampaui kematian raga.
Namun, di era digital saat ini, lanskap menulis telah mengalami pergeseran radikal. Menulis bukan lagi barang mewah yang hanya bisa diakses oleh segelintir intelektual.
Hari ini, setiap orang adalah penulis. Melalui media sosial, blog pribadi, hingga kolom opini daring, jutaan kata diproduksi setiap detiknya.
Sisi ironisnya, kemudahan ini kerap membuat tulisan kehilangan jiwanya. Banyak kata-kata diterbangkan ke langit digital, namun kehilangan pijakan realitas.
Penuh dengan emosi sesaat, bualan tanpa riset, atau analisis mengawang-awang yang terputus dari hajat hidup orang banyak. Lebih parahnya lagi, masih banyak yang belum paham soal kode etik dalam menulis.
Di sinilah kita perlu mengikat kembali aktivitas menulis kita dengan belajar dan terus belajar, jangan merasa puas apalagi keras kepala merasa paling benar. Istilah bijak, semakin berisi semakin merunduk.
Nasihat membumi ini adalah jangkar penyembuh bagi euforia menulis di zaman modern. Berpikir tinggi, melihat melampaui apa yang tersurat, menganalisis dengan tajam, dan memiliki visi jangka panjang, adalah keharusan bagi seorang penulis dan pemikir.
Kita memang dituntut untuk menerbangkan pikiran setinggi mungkin, demi melihat benang merah dari persoalan masyarakat dan segala peristiwa yang tiap hari selalu ada saja terjadi di belahan muka bumi ini.
Namun, daya terbang pemikiran itu akan menjadi sia-sia jika kita mencabut diri dari akar realitas sosial. Menulis yang bernilai, yang kata Pramoedya, bekerja untuk keabadian, adalah menulis yang kakinya tetap kokoh menginjak bumi.
Bagi kita yang bukan anak raja, berpijak di bumi saat menulis berarti memegang tiga prinsip esensial.
Pertama, menghormati kebenaran fakta. Menulis dengan kaki di bumi berarti jujur terhadap data lapangan dan dinamika nyata di masyarakat, bukan memanipulasi kenyataan demi terlihat keren secara akademis.
Kedua, merawat empati. Tulisan yang membumi adalah tulisan yang memiliki “jiwa”. Ia dirajut bukan untuk menyombongkan kepintaran penulis, melainkan untuk menyuarakan apa yang benar-benar dirasakan dan dibutuhkan sesama manusia.
Dan ketiga, menawarkan fungsi. Gagasan sekeren apa pun harus bisa menjadi suluh atau ruang refleksi bagi pembaca di dunia nyata, bukan sekadar tumpukan kosakata rumit yang tidak menyentuh akar masalah.
Ketika seorang penulis berhasil memadukan daya terbang pemikiran untuk mengejar keabadian sejarah, dengan kerendahan hati untuk tetap membumi pada realitas, maka lahirlah sebuah tulisan yang berbobot.
Tulisan seperti inilah yang tidak hanya renyah dibaca hari ini, tetapi akan tetap dicari, relevan, dan bermakna hingga puluhan tahun ke depan.
Menulis bukan sekadar soal menerbitkan tulisan, mencari pembaca, atau mengejar pujian. Lebih mendalam lagi, menulis adalah cara untuk tetap waras, berpijak pada diri sendiri, dan tidak hancur oleh kebisingan dunia luar.
Sebab itu, menulis untuk hidup menjaga nalar kewarasan setiap saat, dari derasnya informasi yang membanjiri lini masa. Menulis dengan akal sehat adalah cara menolak gila di tengah berisiknya informasi dunia.
Sebab pada akhirnya, sejarah tidak akan mencatat siapa yang paling berisik atau paling ningrat garis keturunannya.
Sejarah hanya menyisakan ruang abadi bagi mereka yang meninggalkan jejak pemikiran yang paling jujur, tajam, dan membumi di atas lembaran-lembaran zaman.
(Dede Rosyadi)


