Skip to content

KNKT Ungkap 6 Faktor Penyebab Tabrakan Kereta di Bekasi Timur

Infobekasi.co.id – Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) secara resmi merilis hasil investigasi kecelakaan kereta api yang melibatkan KA 4B Argo Bromo Anggrek dan KA 5568A Commuter Line di area Stasiun Bekasi Timur, pada 27 April 2026.

Dalam laporan yang dipublikasikan, tim investigasi mengidentifikasi enam faktor utama yang berkontribusi pada peristiwa nahas tersebut, mencakup kelemahan sistem persinyalan, tata kelola komunikasi darurat, hingga ketiadaan prosedur operasional standar dalam kondisi tertentu.

Pertama, ditemukan ketidaksesuaian sistem persinyalan yang tidak terdeteksi sejak perubahan tata letak jalur tahun 2021. KA 4B melaju dengan sinyal hijau, padahal Sinyal Blok B104 menyala merah karena KA 5568A masih berada di wilayah Bekasi Timur. Tidak ada sinyal kuning sebagai peringatan dini yang muncul.

Kedua, komunikasi saat situasi darurat berjalan lambat dan tidak efektif. Panggilan masinis tidak menggunakan fitur prioritas darurat, kualitas audio buruk, serta belum adanya standar baku fraseologi. Penyampaian informasi krusial memakan waktu hingga tiga menit lebih dua puluh detik, yang berakibat terlambatnya pengambilan keputusan.

Ketiga, informasi status KA 5568A yang tertahan di Bekasi Timur gagal tersampaikan kepada pusat kendali. Panggilan yang dilakukan tidak memunculkan notifikasi prioritas di konsol petugas, sehingga kedua pusat pengatur perjalanan tidak menerima peringatan dini.

Keempat, belum tersedia mekanisme baku pertukaran informasi antar-pusat kendali. Akibatnya, PPKP Timur hanya mengetahui adanya gangguan dari siaran radio tanpa data lengkap, sehingga arahan yang diberikan kepada KA 4B tidak akurat.

Kelima, visibilitas sinyal pembantu UB104 menurun drastis pada malam hari akibat hambatan optik pada kaca depan lokomotif. Hal ini menurunkan tingkat kewaspadaan awak kereta terhadap kondisi jalur di depan.

Keenam, belum terdapat prosedur maupun pelatihan khusus terkait pengereman darurat di jalur yang melengkung. Masinis menunda pengereman mendadak karena khawatir dapat menyebabkan kereta tergelincir, sehingga keputusan sepenuhnya bergantung pada penilaian pribadi di bawah tekanan.

KNKT merekomendasikan perbaikan menyeluruh pada sistem persinyalan, penyusunan prosedur komunikasi darurat yang baku, serta peninjauan tata kelola pertukaran data antar-pusat kendali agar kejadian serupa tidak terulang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *