Infobekasi.co.id – Setiap menjelang waktu usai salat Magrib, suasana di sejumlah kampung di Bekasi kerap dihiasi lantunan ayat-ayat suci Al-Qur’an. Dari surau kecil, musala, hingga pengeras suara masjid, terdengar suara anak-anak dan remaja mengaji bersama, tradisi yang pernah ada kala itu.
Di kampung-kampung tua seperti Jatiasih, Babelan, dan Tambun, Kaliabang Tengah, Cikarang, Pondok Gede, pemandangan anak-anak duduk melingkar sambil membawa Al-Qur’an atau Iqra kerap dijumpai. Tradisi ini dikenal oleh masyarakat setempat sebagai ngaji sore, biasanya dimulai usai salat Magrib.
Kebiasaan ini bukan sekadar rutinitas keagamaan, melainkan juga menjadi ruang pertemuan sosial dan pendidikan karakter. Para ustaz dan ustazah di mushola bukan hanya mengajarkan bacaan Al-Qur’an, tetapi juga adab, doa sehari-hari, hingga kisah para nabi.
Para guru ngaji di Bekasi memperkuat tradisi ini dengan sistem pendidikan surau dan pesantren kecil. Meski modernisasi dan gempuran gadget makin kuat, sebagian keluarga masih menjaga kebiasaan tersebut sebagai benteng moral.
Fenomena ini juga membawa suasana khas di lingkungan Bekasi. Lantunan ayat suci yang bergema lewat pengeras suara musala menjadi penanda waktu bagi warga. Bagi sebagian orang tua, suara mengaji anak-anak usai Magrib menghadirkan nostalgia masa kecil yang hangat.
Meski di kawasan perkotaan tradisi ini mulai berkurang, terutama di perumahan modern, beberapa komunitas muslim tetap menghidupkannya dengan membentuk TPA (Taman Pendidikan Al-Qur’an).
Tradisi mengaji usai Magrib di Bekasi bukan sekadar ritual ibadah, melainkan juga menjadi identitas budaya religius masyarakat yang dikenal ramah dan guyub. Lantunan ayat suci di waktu senja seakan mengikat kembali tali kebersamaan, sekaligus mengingatkan bahwa Magrib bukan hanya penanda pergantian waktu, tetapi juga panggilan untuk kembali kepada Sang Pencipta.
Dede Rosyadi
#Ngaji #Infobekasi #Magrib






























