infobekasi.co.id – Pimpinan Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) RI, Mokhamad Mahdum, mengajak generasi muda untuk beralih pola pikir. Ia menekankan pentingnya berhenti memposisikan diri sebagai penerima manfaat (mustahik) dan mulai bertekad menjadi pemberi zakat (muzaki).
Mahdum menantang para pemuda untuk memilih peran strategis dalam ekosistem filantropi Islam. Menurutnya, masa depan ekonomi syariah sangat bergantung pada pilihan generasi saat ini, apakah ingin menjadi objek atau justru subjek yang menggerakkan perubahan.
“Peran anak muda itu ada dua pilihan: menjadi mustahik atau muzaki. Masa mau jadi mustahik? Belum apa-apa sudah menganggap diri penerima. Hidup itu soal memilih, mau jadi yang menerima atau yang memberi,” tegas Mahdum, Selasa kemarin.
Dalam kesempatan tersebut, ia juga berbagi pengalaman mengenai pentingnya berdoa dengan visi yang besar. Dulu, doanya difokuskan pada target nominal tertentu, namun kini berubah menjadi permohonan agar bisa memberikan manfaat seluas-luasnya.
“Dulu doanya, ‘Ya Allah, semoga zakat saya tahun ini 1 miliar’. Sekarang doanya berubah: ‘Ya Allah, jadikan saya pembayar zakat terbesar di Indonesia’. Doanya beda, karena kita tahu rezeki dan karunia Allah itu tidak terbatas,” ucap Ia.
Lebih jauh, Mahdum menjelaskan, tugas mahasiswa tidak hanya berhenti pada donasi, tetapi juga menjadi agen literasi. Ketidaktahuan masyarakat mengenai kewajiban zakat dinilai menjadi hambatan utama, sehingga peran pemuda untuk menyosialisasikan hal ini sangat krusial.
“Kita bisa dikatakan salah atau berdosa jika ada orang yang sebenarnya sudah wajib zakat tapi tidak tahu. Tugas mahasiswa adalah menjadi jembatan agar masyarakat paham perbedaan zakat, infak, dan sedekah, serta cara menunaikannya dengan benar,” tambahnya.
Ia juga mengapresiasi tren infak digital yang saat ini mencapai Rp9 hingga Rp10 miliar per bulan dan didominasi kaum muda. Meskipun motivasinya beragam, mulai dari doa kelancaran skripsi hingga pekerjaan, hal ini menjadi modal sosial besar yang diharapkan bisa terus tumbuh menjadi kekuatan utama ekonomi syariah.
Editor: D. Rosyadi






























