Infobekasi.co.id – Persediaan minyak goreng bersubsidi merek Minyak Kita dilaporkan berkurang dan harganya mengalami kenaikan di sejumlah tempat, salah satunya di Pasar Baru Bekasi, Kota Bekasi.
Menurut Sarif, karyawan salah satu agen sembako di pasar tersebut, kondisi kelangkaan dan kenaikan harga ini sudah berlangsung sejak sebulan terakhir. Jika sebelumnya minyak goreng ini dijual seharga Rp18.000 per liter, kini harganya sudah melonjak hingga mencapai Rp23.000 per liter.
“Sejauh ini persediaannya memang langka, apalagi harganya juga naik cukup signifikan. Saat ini harga ecerannya sudah ada yang jual seharga Rp21.000 per liter, sedangkan untuk pembelian per dus dibanderol seharga Rp240.000,” ungkap Sarif saat ditemui di lokasi pada Senin, 5 Mei 2026.
Penurunan jumlah pasokan juga terlihat sangat nyata. Sarif menyebutkan, jika biasanya pihak agen mendapatkan pasokan sebanyak 400 kemasan dari distributor, kini jumlah yang diterima hanya sekitar 100 hingga 200 kemasan saja.
“Selama sebulan terakhir ini pasokannya memang jauh berkurang. Dulu kami bisa ambil 400 kemasan, sekarang paling banyak dapat 200, bahkan kadang cuma 100 kemasan saja yang masuk,” jelasnya.
Masalah serupa ternyata tidak hanya menimpa merek Minyak Kita, tetapi juga dialami oleh berbagai merek minyak goreng lainnya yang beredar di pasaran.
Merek Bimoli ukuran 1 liter, harganya naik Rp1.000 menjadi Rp22.000. Merek Riski ukuran 800 mili liter yang semula dijual Rp17.000, kini menjadi Rp19.000. Begitu juga dengan merek Sanco kemasan 2 liter yang naik dari Rp42.000 menjadi Rp45.000, serta merek Tropical ukuran 1,5 liter yang semula dihargai Rp32.000, sekarang menjadi Rp33.000.
“Karena itulah, saat ini lebih banyak pembeli yang beralih mencari merek lain dibandingkan mengambil Minyak Kita yang persediaannya terbatas dan harganya juga sudah naik,” tambahnya.
Kondisi ini menimbulkan kesulitan tersendiri bagi pihak penyalur dan memberikan dampak langsung pada para pedagang kecil. Terutama bagi penjual makanan seperti gorengan, mereka kebingungan menentukan kebijakan harga jual.
“Dampaknya cukup terasa, apalagi buat para pedagang kecil seperti penjual gorengan. Mereka bingung harus berbuat apa, kalau menaikkan harga khawatir pembeli berkurang, tapi kalau tidak dinaikkan keuntungan mereka jadi sangat sedikit,” ujarnya.
Melihat situasi ini, Sarif berharap Pemerintah Kota Bekasi dan instansi terkait segera melakukan pengawasan langsung di lapangan serta mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk mengatasi kelangkaan dan menstabilkan harga minyak goreng agar kembali terjangkau masyarakat.
(Fahmi)
Editor : Deros






























