Infobekasi.co.id – Belasan calon jemaah haji (calhaj) di Asrama Haji Embarkasi Bekasi gagal melanjutkan perjalanan menunaikan ibadah haji tahun ini. Kegagalan ini disebabkan berbagai faktor kesehatan yang tidak memungkinkan mereka mengikuti rangkaian ibadah dan perjalanan dengan aman.
Kepala Bidang Kesehatan Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Embarkasi Bekasi, Sedya Dwisangka, menjelaskan, kondisi kesehatan menjadi alasan utama tidak berangkatnya mereka. Di antara masalah kesehatan dialami gangguan fungsi tubuh, seperti hipertensi, kadar gula darah tidak terkontrol, hingga demensia atau penurunan kemampuan kognitif.
“Total ada 17 orang yang tidak jadi berangkat tahun ini. Penyebabnya beragam, yang paling banyak ditemukan adalah kasus demensia,” ujar Sedya Dwisangka saat diwawancarai, pada Senin (18/5/2026).
Para calon jemaah yang tidak berangkat terdiri dari laki-laki dan perempuan dengan jumlah yang seimbang. Secara usia, mereka berusia di atas 50 tahun, dengan kelompok usia terbanyak berada di rentang 60 hingga 70 tahun.
“Jumlah laki-laki dan perempuan sama banyak. Semuanya berusia lebih dari 50 tahun, dan mayoritas berada di kisaran 60 sampai 70 tahun,” jelasnya.
Selain demensia, sebagian calon jemaah juga memiliki riwayat atau sedang mengalami penyakit lain yang membutuhkan perhatian khusus, seperti diabetes melitus yang tidak terkontrol dan kondisi gangren.
“Kasus yang kami temukan antara lain diabetes dengan kadar gula yang tidak stabil, serta kondisi gangren yang memerlukan penanganan khusus,” urai Sedya.
Ada juga calon jemaah haji wanita yang sedang hamil dan memiliki riwayat penyakit hipertensi. Berdasarkan pertimbangan medis, pihak petugas menyarankan yang bersangkutan tidak melanjutkan berangkat pada tahun ini.
“Kondisinya memiliki risiko yang sangat tinggi, baik untuk ibu maupun janin, apalagi ditambah dengan riwayat hipertensi. Perjalanan dan penerbangan panjang akan menjadi beban sangat berat bagi kesehatannya,” jelas Sedya.
Mengenai kondisi penderita demensia, Sedya menilai, kemungkinan besar mereka tidak akan dapat berangkat lagi pada tahun ini, mengingat kondisi kesehatan yang membutuhkan waktu penanganan dan pemulihan cukup lama.
“Sepertinya mereka tidak akan bisa berangkat lagi di sisa jadwal keberangkatan yang tersedia. Penanganan dan pemulihan untuk kasus demensia umumnya membutuhkan waktu tidak singkat” imbuhnya.
Berbeda dengan kondisi penderita diabetes, Sedya menjelaskan, kesempatan untuk berangkat masih terbuka, asalkan kondisi kesehatan mereka membaik dan terkontrol dengan baik melalui pengobatan serta pemeriksaan rutin.
“Untuk (calon jemaah) yang mengalami diabetes, jika kondisinya sudah membaik dan teratur pengobatannya, mereka masih berkesempatan bergabung dalam kloter keberangkatan yang tersisa. Semua kembali lagi pada kondisi kesehatan masing-masing, jika sudah lebih baik maka kesempatan masih ada,” tegas Sedya.
(Fahmi)
Editor: Dede R






























